Senin, 29 Oktober 2012

ABDURRAHMAN SIDDIK AL BANJARI


ABDURRAHMAN SIDDIK AL BANJARI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah: Pemikiran Modern Dalam Islam
Pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
2011/2012



Disusun Oleh:
Iwan Ridwan Maulana
(1410110057)



Dosen Pengampu:
Iwan Ahenda, M.Ag



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
SYEKH NURDJATI
CIREBO

 
N


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puja dan puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya lah sehingga dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah  Dengan Judul “Abdurrahman Siddik Al Banjari” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun sebagai syarat melengkapi tugas mandiri akhir  Semester IV tahun ajaran 2011/2012. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Bapak Iwan Ahenda, M.Ag yang selama satu semester sudah membimbing pada mata kuliah Pendidikan Modern Dalam Islam.
2.      Pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung telah membantu dalam penyusunan tugas makalah ini.
Sebagai penulis, mengaku bahwa “tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu, sumbang saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Akhirul kalam ... wabilahit taufiq wal hidayah war ridho wal inayah.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Cirebon, 6 Juni 2012

Penulis
 

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR............................................................................................       i
DAFTAR ISI...........................................................................................................      ii
BAB I      Pendahuluan
A.    Latar Belakang..................................................................................      1
BAB II    Abdurrahman Siddik Al Banjari
A.    Riwayat Hidup Abdurrahman Siddik Al Banjari...................................     3
B.     Pemikiran Abdurraman Siddik Al Banjari...........................................      9
BAB III   Penutup
A.    Kesimpulan........................................................................................    10
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................    13

       I.            Pendahuluan

1.      Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri, bahwa perjalanan sejarah Islam di Indonesia melibatkan peran dan fungsi kaum ulama. Bahkan perjalanan sejarah nasional pun tidak terlepas dari peranan yang mereka mainkan. Di antara mereka, ada yang bergerak secara aktif sebagai da’i menyebarluaskan Islam, sehingga agama ini menjadi anutan mayoritas penduduk Nusantara. Dimasa-masa perjuangan melawan penjajahan, mereka terkenal pula sebagai pejuang-pejuang tangguh dan ulet. Di samping itu ada pula yang tekun mengabdikan diri sebagai ulama tulen dengan bobot kealiman dan tingkat intelektualitas yang memadai.
Adalah Syeikh Abdurrahman Siddik lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, tahun 1284 H / 1857 M.[1] Seorang ulama pada masanya yang kiprah dan debut keulamaannya berawal dari pengajarannya kepada masyarakat Pulau Bangka. Nama lengkapnya adalah Syeikh Abdurrahman Siddik bin Muhammad Afif bin Muhammad bin Jamaluddin al-Banjari. Dilihat dari keturunan ayahnya ia masih termasuk keluarga sultan Banjar. Ibunya, Safura binti Syeikh Haji Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad As’ad, adalah cucu Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Sosok Syeikh ini sangat melekat di hati dan kalangan masyarakat perkampungan di pulau Bangka hingga sampai saat ini. Diantara salah satu apresiasi masyarakat kepulauan Bangka Belitung kepada Syeikh Abdurrahman Siddik adalah penggunaan nama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri dengan menisbatkan kepada nama Syeikh Abdurrahman Siddik, sehingga jadilah nama STAIN ini dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Syeikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung atau disingkat dengan STAIN SAS BABEL. Dan disamping itu, karya-karya beliau yang berupa kitab-kitab yang bertuliskan dengan aksara Arab Melayu banyak digunakan dan dipelajari oleh masayarakat Bangka Belitung. Melalui keturunannya dan penerus lisannya maka kemudian pengajaran kitab-kitab Syeikh ini terus eksis diajarkan kepada masyarakat di Pulau ini hingga sampai sekarang.
Dalam konteks perkembangan Islam di daerah Bangka, Propinsi Bangka Belitung, kiprah ulama ini masih meninggalkan jejak yang tak ternilai, baik yang berwujud tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat maupun yang berupa karya yang masih digunakan dalam penyebaran agama atau disimpan oleh anggota masyarakat. Beliau adalah tokoh yang berperan besar dalam membangun dan melestarikan networks antara Bangka dan Banjar dalam hal tradisi keagamaan. Hingga saat ini, telah terjadi reorientasi belajar agama ke Banjar dikalangan sejumlah anggota masyarakat Bangka dan mendirikan atau mengelola lembaga pendidikan Islam model Banjar. Hal ini dikarenakan oleh ketokohan ulama-ulama Banjar di pulau Bangka memiliki nilai dan perhatian tersendiri bagi masyarakat di pulau ini. Disamping karena memiliki ciri khas melayu yang sama, namun lebih dari itu sosok Syeikh Abdurrahman Siddik ini masih tersimpan dalam collective memory pada sebagian masyarakat Bangka.
Dalam agama Islam, ulama adalah waratsah al-anbiya’ (pewaris para Nabi) yang dianggap sebagai kelompok yang menggantikan kedudukan Nabi dalam urusan keagamaan. Pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam suatu daerah tidak bisa dilepaskan dari peranan ulama sebagai elit keagamaan yang menjadi rujukan bagi masyarakat dalam masalah-masalah keagamaan. Singkatnya, siapapun tidak akan mampu memahami perkembangan Islam disuatu wilayah dan masyarakat muslim tertentu tanpa memahami ulama, pandangan dan karya-karyanya.
Maka Kemudian seorang syeikh, kyai atau ulama dipandang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual karena kedekatannya dengan Sang Pencipta. Kyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren, juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Penampilan kyai yang khas merupakan simbol-simbol kesalehan. Misalnya, bertutur kata lembut, berperilaku sopan, berpakaian rapih dan sederhana, serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Karena itu, perilaku dan ucapan seorang kyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, disini penulis ingin mengangkat sosok Syeikh Abdurrahman Siddik, peranan dan hubungannya dengan kondisi sosial kegamaan masyarakat kepulauan Bangka pada waktu itu hingga saat ini dan sedikit mengnai pemikiran Abdurrahman Siddik Al Banjari.

   II.            Abdurrahman Siddik Al Banjari

A.    Riwayat Hidup Syeikh Abdurrahman Siddik Al Banjari
Pada umumnya, ulama berperan dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosio kultural. Ulama memberikan pengajaran, pendidikan dan bimbingan keagamaan kepada masyarakat baik secara individual maupun secara institusional melalui lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah. Lebih dari itu, bahwa pandangan dan fatwa ulama selanjutnya dijadikan pedoman bagi pengikutnya dalam bersikap dan bertindak. Demikian juga halnya dengan sosok seorang ulama yang akan penulis ketengahkan ini.
Syeikh Abdurrahman Siddik bin Muhammad Afif bin Mahmud Jamaluddin al-Banjari, lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1284 H., atau 1857 M. adalah salah seorang ulama yang kiprah dan peran keulamaannya banyak dilakukannya diluar tanah kelahirannya. Setelah menamatkan studynya di Mekah, maka ia memang pertama kali kembali ke kampung halamannya, Martapura Kalimantan Selatan. Untuk beberapa waktu yaitu kurang lebih selama delapan bulan ia tinggal didaerah ini, yang sebagian besar kegiatannya digunakannya untuk bersilaturrahmi ke famili dan kerabatnya, ziarah ke makam keluarga serta berdiskusi dengan ulama Kalimantan Selatan.[2]
Debut keulamaannya berawal dan berkembang ketika beliau menetap di pulau Bangka. Dikatakan bahwa Syeikh Abdurrahman Siddik sangat memperhatikan dakwah Islamiyah ke daerah-daerah pedalaman yang masih minim pengetahuan agamanya dan sangat mengharapkan bimbingan dan pendidikan Islam. Dalam masyarakat Bangka ketika itu masih berkembang praktek-praktek yang tidak sejalan dengan ajaran Islam sehingga barangkali inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Syeikh Abdurrahman Siddik untuk melaksanakan dakwah di pulau tersebut.[3]
1.      Peran Keulamaannya di Pulau Bangka
Awal kedatangannya ke pulai ini, tepatnya di Muntok tempat dimana ayahnya menetap. Di daerah ini, ia meneruskan mengajar kitab-kitab yang diajarkan oleh ayahnya. Ternyata, berkat pengalaman mengajarnya di Mekah dan diskusi dengan para ulama di berbagai tempat ia dapat menjelaskan isi kitab dengan baik dan menarik sehingga hal ini menyebabkan bertambahnya peserta pengajian.
Tidak kurang dari dua belas tahun Syeikh Abdurrahman Siddik bermukim di pulau ini dan giat menjalankan kegiatan dakwah dan pendidikan Islam. Selama di pulau ini ia pada mulanya menetap di Muntok (Bangka Barat) tetapi kemuian tinggal di beberapa kota dan desa di Bangka dan di tempat-tempat tersebut ia menikah. Ia mengunjungi sejumlah desa untuk memberikan bimbingan dan pendidikan kepada masyarakat. Pusat pendidikan dan dakwahnya adalah masjid dan rumah penduduk. Penekanan utama dakwahnya adalah pada pemurnian aqidah Islam atau tauhid, karena Islam sebagaimana diketahui adalah merupakan agama (al-Diin), dengan sistemnya yang utuh, mengandung konsep yang menyeluruh (the total concept)[4] untuk mengarahkan keyakinan, iman serta perilaku manusia penganutnya untuk memenuhi hakikat dan tujuan hidupnya, yaitu mengabdikan diri kepada Allah SWT semata. Prinsip pengabdian kepada Allah semata itu, secara mendasar lahir dari ajaran yang sangat esensial dan fundamental sifatnya dalam Islam, yaitu ajaran tauhid. Suatu monoteisme murni yang ketat dan tidak kenal kompromi.[5]
Konsekuensi ajaran tauhid yang seperti itu terhadap penganutnya adalah berupa dorongan kuat, dengan mengerahkan semua potensinya, untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah dipikulkan kepadanya oleh Islam. Yang dimaksud dengan ketentuan-ketentuan disini adalah kandungan ajaran Islam itu sendiri yang mana setiap muslim dituntut untuk mengetahui dan memahaminya. Konsep tauhid yang pertama kali diajarkannya ketika itu kepada masyarakat adalah sangat tepat sekali, mengingat pada masa itu berkembang praktek-praktek takhayul dan syirik yang bertentangan dengan ketauhidan.[6] Melalui dakwah tersebut Syeikh Abdurrahman Siddik bermaksud menyadarkan masyarakat tentang pentingnya jalan bertauhid kepada Allah. Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dari berbagai pihak termasuk dari guru-guru ilmu kebathinan, Syeikh tetap giat menjalankan dakwahnya.[7]
Peran dakwah dan keulamaannya berlangsung hampir disemua tempat di Pulau Bangka pernah disinggahi dan diadakan pengajaran dan pendidikan. Kegiatan dakwah tersebut dilakukannya ke beberapa wilayah di pulau Bangka, pertama sekali berpusat di Muntok (Bangka Barat), kemudian dilanjutkan di Belinyu (Bangka Induk) selama dua tahun. Dari Belinyu kemudian ia memberi pengajian di daerah Sungai Selan, setelah dari daerah ini ia melanjutkan dakwahnya ke Pangkal Pinang (Ibukota Provinsi sekarang), lalu ia menetap di Petaling sekitar tiga tahun. Selanjutnya ia mengajar di Payabenua dan Mendo dengan cara pulang pergi, kemuian selanjutnya ia berdakwah di daerah kemuja lebih kurang tiga tahun, lalu ke Puding Besar selama satu tahun dan menyempatkan ke Kotawaringin. Lokasi dakwahnya yang terakhir di Bangka adalah di Kundi. Akhirnya ia kembali lagi ke Muntok. Kemudian pada fase berikutnya, kegiatan keulamaannya berpusat di Sapat, Indragiri Riau, setelah berhijrah dari Pulau Bangka.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa Syeikh Abdurrahman Siddik telah menjalankan peranannya sebagai ulama dalam pengertian yang sesungguhnya. Ia adalah pengajar dan pendidik yang memberikan pendidikan dan bimbingan agama kepada masyarakat, khususnya Bangka dan Indragiri. Kalau di Bangka pendidikan dan pengajarannya berpusat di masjid dan rumah-rumah penduduk, di Indragiri ia berhasil mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan Islam seperti pesantren di Jawa.[8] Selain itu, ia adalah seorang da’i yang giat melakukan kegiatan dakwah kepada masyarakat baik di Bangka maupun di Indragiri.
2.      Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Bangka
Penduduk pulau ini beraneka ragam etnik dari seluruh Indonesia . Mata pencaharian penduduk, ± 66% masih tergantung pada lahan pertanian. Penduduk asli Pulau Bangka memiliki karakter tersendiri yang terbentuk dari pengaruh lingkaran agama dan budaya. Sebagian besar penduduk beragama Islam di samping Kristen, Hindu, Budha dan Kong Fhu Chu dengan kategori Islam 60 %, China 30 %, selebihnya adalah agama-agama lain yang diakui di Indonesia.
Pengaruh dari ajaran yang dibawa oleh Syeikh Abdurrahman Siddik di wilayah ini tentunya sedikit banyak telah merubah paradigma keagamaan dan sosio kultural masyarakat sekitarnya. Hal ini terlihat dari masih digunakannya kitab-kitab Syeikh dalam beberapa pengajian atau majelis bahkan mayoritas setiap pengajian yang diadakan di masjid atau di rumah-rumah penduduk menggunakan kitab Syeikh. Dari tempat-tempat pengajian ini, maka kemudian masyarakat bisa mendapatkan dan menambah khazanah ilmu pengetahuan agama mereka, lebih jauh selain itu adalah bahwa pola pikir masyarakat sudah berubah dan berkembang melalui pengajaran dan pendidikan yang disampaikannya.
Terlihat lagi dari kultur budaya dan tradisi masyarakat dalam melaksanakan beberapa ritual ibadah, yang pada awalnya masih mempercayai mistisisme dan khurafat sehingga lambat laun kepercayaan ini bisa terkikis dan berkurang, fenomena ini terjadi setelah pengajaran, pendidikan dan dakwah yang dilakukan oleh Syeikh Abdurrahman Siddik. Kemudian selanjutnya, dikarenakan Syeikh dalam menyampaikan pengajaran dan pendidikan agama Islam adalah seutuhnya mengikuti ahli sunnah wal jama’ah, maka kemudian tradisi keagamaan dalam masyarakat Bangka hingga saat ini adalah representasi dari kultur budaya dan tradisi keagamaan yang dilakukan oleh ahl nahdiyyin (NU) walaupun tidak sepenuhnya duplikasi dari apa yang mereka lakukan. Hal ini tercermin dari ritual yang dilakukan ketika terjadi musibah kematian pada masyarakat Bangka. Maka, yang dilakukan adalah melaksanakan proses tahlilan selama tujuh hari tujuh malam dengan penyediaan beberapa makanan dan minuman bagi jama’ah tahlil yang hadir, kemudian selanjutnya diteruskan dengan ritual dua puluh lima hari, empat puluh hari, seratus hari hingga tahunan (atau setahun sekali di lakukan kembali proses tahlilan tersebut).
Kultur budaya religi seperti ini sangat kental dan melekat sekali pada kehidupan sosial masyarakat di pulau Bangka. Efek atau bias dari pengajaran, pendidikan dan dakwah Syeikh Abdurrahman Siddik, sangat dirasakan sekali oleh masyarakat di daerah ini, bukti konkrit dari rasa haus tentang pengetahuan agama Islam di wilayah ini yaitu terus di ajarkan dan di pakai kitab-kitab Syeikh pada setiap pengajian masyarakat yang diadakan baik di masjid maupun di rumah-rumah warga. Kemudian hal ini menjadikan kondisi sosial keagamaan masyarakat Bangka semakin kuat dan tetap berpegang kepada ajaran Islam, meskipun penduduk di pulau ini lebih dari 30 % adalah di huni oleh etnis china, penduduk yang beragama Islam 60 % dan selebihnya adalah di huni oleh penganut agama yang lain.
3.      Hubungan Emosional dan Sosial Antara Syeikh Abdurrahman Siddik dengan Masyarakat Bangka.
Dilihat dari fakta sosio historis dan akademis, Syeikh Abdurrahman Siddik merupakan salah seorang figur ulama yang pantas menjadi teladan bagaimana seorang ulama mampu berpartisipasi dalam membina masyarakat kearah yang lebih baik. Adalah fakta bahwa dalam masyarakat Bangka Belitung, ketokohan Syeikh Abdurrahman Siddik sangat mengakar. Hampir di banyak daerah dapat ditemukan karya-karya tulis dan murid-murid atau murid dari murid-muridnya yang masih aktif meneruskan pemikiran Syeikh ini. Secara akademis, ketokohan ulama ini terus dikaji dalam bentuk berbagai jenis karya ilmiah dengan beragam tingkat dan bobotnya.
Sejak tahun 1898, Syeikh Abdurrahman Siddik mulai bermukim di Bangka untuk mengembangkan ilmunya, berdakwah sambil menulis kitab. Sejak pertama kali ini sudah mulai nampak keterikatan dan kebutuhan masyarakat Bangka kepadanya. Dan selama hampir beberapa lama yakni tidak kurang dari dua belas tahun Syeikh bermukim dipulau ini, dengan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajar dan menyampaikan dakwah kepada masyarakat dengan menjelajahi sampai ke pelosok-pelosok pulau tersebut yang sasaran dakwahnya adalah aqidah, karena pada masa itu berkembang percampuran ilmu tauhid dengan ilmu kebathinan yang merusak aqidah.[9] Apalagi tekhnis dan proses pengajarannya adalah dari masjid ke masjid, dari rumah-ke rumah maka hal inilah yang membuat dan mempererat hubungan antara masyarakat dengan Syeikh. Sampai saat ini figur Syeikh Abdurrahman Siddik tetap masih melekat dan tersimpan dalam collective memory sejumlah anggota masyarakat Bangka.
Wujud terjalinnya hubungan emosional antara Syeikh dan masyarakat Bangka termanifestasi dengan diteruskannya pengajian, pengajaran dan pendidikan yang dilakukan oleh muridnya atau murid-murid dari muridnya dengan memakai kitab-kitab karangannya, lebih dari itu hubungan tersebut terformalisasikan dengan penggunaan nama Syeikh Abdurrahman Siddik bagi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bangka Belitung yang hingga saat ini merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri di provinsi keplauan ini.[10] Hubungan sosial kemasyarakatan Syeikh selama bermukim di Bangka diwujudkan dengan jalan menikah kepada warga dimana ia tinggal, seperti di Muntok wilayah Bangka Barat. Kemudian ia juga mempelopori pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa ketika ia bermukim di Kampung Hidayat, Sapat Indragiri untuk meningkatkan taraf ekonomi, tingkat pendidikan dan keberagamaan masyarakat.[11]
Berkenaan dengan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa partisipasi masyarakat dalam menegakkan syi’ar Islam bersama Syeikh di daerah kepulauan ini terealisasi dengan tetap dilaksanakannya proses pengajaran dan pendidikan ditengah-tengah banyaknya tantangan. Dan kini melalui lisan-lisan penerus perjuangannya dalam menegakkan ajaran Islam masih tetap berlangsung eksis dilakukan meskipun di tengah-tengah era globalisasi dalam setiap relung ruang kehidupan. Secara umum, hubungan emosional dan sosial masyarakat Bangka tetap termanifestasi dalam setiap aspek kehidupan beragama masyarakat di kepulauan ini, terlebih di daerah pedesaan dan perkampungan.
B.     Pemikiran Abdurrahman Siddik Al Banjari
Dalam pemikiran Abdurrahman Siddiq Al Banjari tidak seperti halnya pemikiran-pemikiran modern tokoh Indonesia yang mendapatkan kontroversi dari khalayak masyarakat. Pemikiran dari Abdurrahman di terima hangat oleh masyarakat, sebagai mana terlihat dalam penghargaan masyarakat kepada Abdurrahman dalam pembahasan sebelumnya.
Dari berbagai pemikiran Abdurrahman salah satu dari berbagai pemikiranya yang terdapat pada karyanya Amal Ma’rifah dan Syajaratul Arsyadiyah[12]
Latar belakang ditulisnya kitab Amal Ma’rifah ini berangkat dari banyaknya orang yang menuntut ilmu ke berbagai wilayah Nusantara guna mencari ilmu-ilmu “kesempurnaan” dalam rangka mencapai martabat seorang muslim yang betul-betul taat kepada Allah SWT. Namun pada saat itu banyak aliran kalam dan tasawuf yang cenderung menyimpang, karena tidak menempatkan porsi syariat secara benar sehingga masyarakat cenderung menjadi fatalis (Jabari), disebabkan para tokohnya yang tidak memiliki dasar agama yang kuat dan hanya bertumpu pada khayalan dan alam kebatinan saja. Untuk itulah kitab Amal Ma’rifah dapat menjembatani dan menjadi arah bagi orang-orang yang mencari kesempurnaan keimanan kepada Allah SWT.
Di daerah Kalimantan Selatan pun diduga ada pandangan masyarakat yang cenderung menyimpang dari ajaran kitab tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan cara orang dalam memahami kitab ini terlalu tekstual dan sepotong-sepotong. Memang di dalam kitab ini ada beberapa ajaran tasawuf yang cenderung menyatukan antara Khalik dengan makhluk, antara lain pernyataan yang menegaskan bahwa semua perbuatan manusia harus dipandang dengan matahati dan matakepala disertai i’tikad bahwa peristiwa yang terjadi di alam ini adalah semata-mata perbuatan Allah.
Pemahaman terhadap materi kitab yang tidak menyeluruh, berakibat banyak pandangan yang menyimpang dari inti kitab ini. Sebagaimana terungkap dalam seminar “Pemantapan Tasawuf di Kalimantan Selatan” tahun 1985 dan seminar “Pemantapan Pengajian Tasawuf Sunni di Kalimantan Selatan” tahun 1986, banyak peserta seminar menilai bahwa kitab beliau tersebut beraliran Wahdat al-Wujud.[13]
Ketidaktahuan dalam memahami ajaran atau gagasan suatu kitab, dapat merusak ketauhidan dan paham tasawuf seseorang. Oleh karena itu, isi kitab tersebut perlu dikaji lebih menyeluruh lagi, sehingga diperoleh kejelasan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, dan terhindar dari kesalahan dalam memvonis ajaran seorang ulama.
Dalam kitab Amal Ma’rifah nampaknya bahwa Syekh Abdurrahman Siddiq mengemukakan tentang konsep tauhid dan sufistik yang bernuansa Akhlaki/Amali paling jauh sampai kepada wahdat al-syuhud, akan tetapi tidak sampai kepada wahdat al-wujud meskipun ada sejumlah ungkapan yang mendekati ke arah itu. Hal ini karena pada saat itu setting sosial masyarakat banyak diwarnai paham wahdat al-wujud, yang terlihat dengan banyaknya ajaran-ajaran yang mengarah kepada paham tersebut.

III.            Penutup

A.    Kesimpulan
Syeikh Abdurrahman Siddik yang hidup pada parohan abad ke 19 dan parohan awal abad ke 20 M (1857-1939) merupakan seorang ulama Indonesia, yang telah ikut berkiprah membaktikan dirinya menjalankan tugas keulamaannya di tengah-tengah masyarakat. Dengan menyadari fungsi dan perannya sebagai ulama, ia berusaha menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai cara baik itu melalui dakwah, mengajar, bersosialisasi dengan masyarakat bahkan melalui media yang berupa pamflet-pamflet tulisannya dan karya-karyanya berupa kitab-kitab karangannya.
Kegiatan dan perjuangan keulamaannya secara umum boleh dikatakan berorientasi kepada usahanya untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada masyarakat yang sekaligus ia tujukan untuk membongkar dinding-dinding kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Dalam rangka itulah ia sebagaimana terlihat, selain giat di bidang pendidikan dengan memimpin dan mengasuh lembaga-lembaga pendidikan agama Islam yang didirikannya, seperti madrasah di Bangka, dan pesantren di Indragiri, Riau. Disamping itu, ia berusaha keras langsung terjun memberikan contoh yang dapat membangkitkan etos kerja, taraf hidup bangsanya di bidang ekonomi.
Nilai-nilai agama Islam yang dianggap masyarakat melekat pada diri ulama, seperti halnya juga pada Syeikh Abdurrahman Siddik ini, memberikan peluang kepadanya untuk menjadi titik panutan dan sekaligus pula pemimpin informal yang dihormati masyarakatnya. Dia merupakan tempat masyarakat bertanya dan tempat mereka mendapatkan legitimasi dan penyelesaian terhadap berbagai masalah keagamaan dan kehidupan yang mereka hadapi.
Dengan tidak menutup kemungkinan adanya kekurangan dan keterbatasan Syeikh Abdurrahman Siddik sebagai seorang ulama yang banyak bergerak di daerah pedesaan, ia dapat digolongkan sebagai tokoh yang kepiawaiannya tidak hanya terlihat dari bobot kepemimpinannya yang cukup kharismatik dalam masyarakatnya, tetapi juga pada kerja intlektualnya yang telah menghasilkan karya dalam berbagai cabang ilmu agama Islam. Dalam kaitan ini tidak berlebihan jika Deliar Noer mengungkapkan bahwa ulama di desa ada juga yang dapat di pandang sebagai orang yang mempunyai posisi ambiguiti ; intelektual dan agama.[14]
Dari uraian diatas, dapat di tarik kesimpulan bahwa Syeikh Abdurrahman Siddik adalah sosok ulama yang dekat dengan masyarakat yang memliki rasa sosial yang tinggi, selain itu ia adalah tempat tumpuan masyarakat dalam memecahkan problema tentang masalah-masalah keagamaan. Sehingga kemudian, yang terjadi pada saat ini dapat disebutkan bahwa secara kuantitas masyarakat Bangka dapat merasakan hasil perjuangan Syeikh ini dalam memperjuangkan dan menyebarkan praktek agama kepada masyarakat kepulauan ini dan kondisi sosial keagamaan masyarakat Bangka dapat meningkat mulai dari pelosok-pelosok daerah sampai ke masyarakat perkotaan dan hampir di seluruh wilayah kepulauan ini. Dengan terjadinya proses interaksi dan sosialisasi yang akrab dilakukan Syeikh Abdurrahman Siddik terhadap masyarakat, dapat dilihat bahwa hampir seluruh masyarakat Bangka mengenal dan mengetahui sosok ulama satu ini dan pada sebagian masyarakat Bangka sosok Syeikh ini tetap tersimpan dalam collective memory mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Syafei. Riwayat Hidup dan Perjuangan Syeikh Abdurrahman Siddik Mufti Indragiri, Jakarta: CV. Serajaya, 1982.
Harmi, Zulkifli. Dkk. Transliterasi dan Kandungan Fath al-Alim fi Tartib al-Ta’lim Syeikh Abdurrahman Siddik, Sungailiat: Siddiq Press, 2006.
Karim, Muhammad Nazir. Dialektika Teologi Islam, Analisis Pemikiran Kalam Syeikh Abdurrahman Shiddiq al- Banjari, Bandung: Penerbit Nuansa, 1992.
Noer, Deliar. Masalah Ulama dan Intelektual Ulama, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
Siddik, Abdurrahman. Syajarat al-Arsyadiyat wa ma Ulhiqa biha, Singapura: Mathba’ah al-Ahmadiyyah, 1356.
Yusuf Halidi, Ulama Besar Kalimantan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Surabaya: Bina Ilmu, 1984.
http://tqar.wordpress.com/2011/04/21/abdurrahman-siddiq-al-banjari-ulama-indonesia-yang-mengajar-di-masjidilharam/



[1] Syafei Abdullah, Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Syekh H.A. Rahman Shiddik Mufti Indragiri, Jakarta: CV. Serajaya, 1982, hlm. 19.
[2] Syafei Abdullah, Ibid., hlm. 21
[3] Zulkifli Harmi., dkk, Transliterasi dan Kandungan Fath al-Alim Fi Tartib al-Ta’lim Syeikh Abdurrahman Siddik, Shiddiq Press, 2006, hlm. 16.
[4] Artinya, Islam merupakan agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik untuk keperluan hidupya di dunia maupun untuk kepentingannya di akherat kelak ( pasrah ) dalam buku tapak sabda karya Fauz Noor di bahas lebih jauh tentang addin

[5] Muhammad Nazir Karim, Dialektika Teologi Islam Analisis Pemikiran Kalam Syekh Abdurrahman Siddik Al-Banjari, Bandung: Penerbit Nuansa, 1992, hlm. 1
[6] Zulkifli Harmi dkk., Ibid., hlm. 18
[7] Syafei Abdullah, Ibid., hlm. 23
[8] Zulkifli Harmi dkk., Ibid., hlm. 23
[9] Syafei Abdullah, Ibid., hlm. 23.
[10] Zulkifli Harmi dkk., Ibid., hlm. 5
[11] Ibid., hlm. 21
[12] Yusuf Halidi, Ulama Besar Kalimantan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Surabaya: Bina Ilmu, 1984, hlm. 54.
[13] http://tqar.wordpress.com/2011/04/21/abdurrahman-siddiq-al-banjari-ulama-indonesia-yang-mengajar-di-masjidilharam/
[14] Deliar Noer, Masalah Ulama dan Intelektual Ulama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 18