Jumat, 26 Oktober 2012

hadist tarbawwi


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
Manusia adalah makhluk sosial. Jadi tidak dapat dihindari komunikasi atau hubungan antar sesama. Dengan kejadian seperti ini, ukhuwah dengan sendirinya akan terbentuk. Dalam Islam dikenal bermacam-macam ukhuwah yang pada intinya adalah persaudaraan antarsesama muslim maupun non muslim. Untuk menciptakan ukhuwah yang baik, perlu adanya silaturahmi kepada sesama. Dengan bersilaturahmi akan mendatangkan keakraban dan kasih mengasihi antar sesama, khususnya silaturahmi kepada sanak famili. Dalam hal ini yang dapat memutuskan tali persaudaraan adalah kurangnya rasa peduli kita, memang manusia mempunyai sifat yang egois yang dapat menimbulkan permusuhan. Hal ini sebaiknya dihindari oleh kita selaku umat Islam. Karena Allah SWT akan melaknat orang yang memutus tali persaudaraan.
B.            Rumusan masalah
1.        Apa yang dimaksud  Ukhuwah ?
2.        Bagaimana menyambung silaturahmi ?
3.        Mengapa dilarang memutus silaturahmi ?
C.            Tujuan penulisan
1.        Untuk mengetahui apa yang dimaksud Ukhuwah.
2.        Untuk mengetahui bagaimana menyambung silaturahmi.
3.        Untuk mengetahui larangan memutus silaturahmi.






BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian     Ukhuwah
          Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu didudukan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada kesan bahwa istilah teresebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau dengan kata lain , kata “islamiyah” dujadikan sebagai pelaku ukhuwah.
          Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiva, sehingga ukhuwah islamiyah berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-Qur’an dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata “ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah”.
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.[1]


عن ا لنّعما بن بشير رضى الله عنهما قال : قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلّم : ترى المؤمنين في ترا حمهم وتوادّهم وتعا طفهم كمثل الجسد اذاشتكى عضو تدا عى سا ئر جسده با السّهر والحمّى
{ اخر جه البخرى :   كتاب الاذب : با ب رحمة النا س والبها ئم }

“An-nu’man bin Basyir berkata,’Nabi SAW.bersabda,’anda akan melihat kaum mukminin dalam kasih sayang dan cinta mencintai, pergaulan mereka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada lain-lain anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat tidur”.
(H.R. Bukhari)
Hadist di atas menggambarkan hakikat hubungan antara sesama kaum Muslimin yang begitu eratnya menurut Islam. Hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta, dan pergaulan diibaratrkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan, mersakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika anggota badan  tersebut sakit, anggota basdan lainnya ikut merasakan sakit. Hubungan itu menggambarkan betapa kokohnya hubungan antar sesama umat Muslim.
Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum Muslim dalam hubungannya sesama kaum Muslimin. Sifat egois dan mementingkan diri sendiri sangan ditentang oleh Islam. Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya untuk bersatu dan saling membantu. Itulah yang akan menjadi pangkal kekuatan kaum Muslimin. Setiap Muslim merasakan penderitaan saudaranya dan mengulurkan tangannya untuk membantu sebelum diminta, yang tidak didasarkan atas pujian dan imbalan, tetapi berdasaarkan Lillah.
Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh kaum Mukminin pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ketika Beliau dan paara sahabat Hijkrah ke Madinah. Di kota inilah persaudaraan antar umat Islam terlihat sangat nyata. Penduduk kota Madinah menyambut kedatangan kaum Muhajirin dengan suka cita, melebihi sambutan kepada orang lain karena pertalian darah atau keluarga. Segala keperluan dan kepentingan kaum Muhajirin, mulai dari tempat tinggal, makanan, serta kebutuhan lainnya mendapat santunan dari penduduk kota [2]Madinah. Tidak mengherankan jika penduduk kota Madinah mendapat sebutan kaum Anshor, yakni kaum penolong dan pembela dalam arti yang luas, tanpa mengharapkan balasan apapun.
Bukti persaudaraan, kasih sayang dan keramahtamahan yang memiliki nilai keikhlasan yang sangat tinggi dari kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin diabadikan dalam Al-Quran:
tûïÏ%©!$#ur râä§qt7s? u#¤$!$# z`»yJƒM}$#ur `ÏB ö/ÅÏ=ö7s% tbq7Ïtä ô`tB ty_$yd öNÍköŽs9Î) Ÿwur tbrßÅgs Îû öNÏdÍrßß¹ Zpy_%tn !$£JÏiB (#qè?ré& šcrãÏO÷sãƒur #n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4
Artinya:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada merka (orang Muhajirin) ddan mereka mengutamakan orang lain dari pada diri mereka walaupun diri mereka sendiri kekurangan.”
                                                                                       (Q.S. Al-Hasyr: 9)
 Pada masa itu kaum Muslimin betul-betul bersatu dan bersaudara sehingga menjadi satu kekuatan yang sulit ditandingi oleh musuh walaupun jumlah kaum Muslimin  tidak terlalu banyak. Akan tetapi, sangat disayangkan, pada saat ini semakin lama umat Islam bercerai berai walaupun dari segi jumlah semakin banyak. Kaum Muslimin tidak lagi mau bersatu sehingga menjadi lemah.
Menurut pendapat kami, bahwa pada awal mulanya terjadinya pengkotak kotakan umat islam di bumi nusantara berawal ketika pada saat pemilu bermunculan partai-partai umat islam yang pada awal mulanya partai Islam tergabung dalam satu partai maka tidak heran terjadi fanatisme golongan pada saat ini. Maka hendaknya setelah kita merasakan bahwa telah terjadi pengkotak kotakan diantara kita, kita mesti saling bertoleransi dalam segala perbedaan, karena pada hakikatnya perbedaan adalah rahmat. Ketika semua umat Islam mempunyai rasa toleransi yang tinggi yang terjadi adalah suatu integralitas atau dengan kata lain akan lahir nilai Tauhid yakni satu kesatuan diantara kita.
Persatuan dan kesatuan merupakan nikmat yang sangat besar, yang harus disyukuri oleh umat Muslim dengan cara mempertahankannya. Persaudaraan dan kesatuan akan membawa kepada kesuksesa atau kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Imran ayat 103 yang berbunyi:
(#rãä.øŒ$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3øn=tæ øŒÎ) ÷LäêZä. [ä!#yôãr& y#©9r'sù tû÷üt/ öNä3Î/qè=è% Läêóst7ô¹r'sù ÿ¾ÏmÏFuK÷èÏZÎ/ $ZRºuq÷zÎ) ÷LäêZä.ur 4n?tã $xÿx© ;otøÿãm z`ÏiB Í$¨Z9$# Nä.xs)Rr'sù $pk÷]ÏiB 3
Artinya:
Ingatlah karunia Tuhan kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan karunia Tuhan itu kamu menjadi bersaudara, dahulu kamu berada di tepi jurang yang curam (neraka). Maka Tuhan melepaskan kamu darinya”.
(Q.S. Ali Imran: 103)
          Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum masuknya Islam selalu berperang dan bercerai-berai, tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat bersatu.
          Akan tetapi, persamaan akidah yang dimaksud disini adalah dalam arti sebenarnya, lahir batin bukan hanya label atau pengakuan saja. Jika tidak demikian, persamaan akidah tidak mungkkin mampu mempersatukan dan mengembalikan kembali kejayaan umat Islam seperti pada masa pendahulu Islam.
          Namun demikian, tidak berarti bahwa umat Islam dilarang untuk berhubungan dan bersahabat dengan umat selain Islam. Umat Islam pun dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka karena pada dasarnya semua manusia itu berasal dari bapak yang sama, yakni Adam. Allah SWT . berfirman:
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4
Artinya:
Manusia adalah umat (bangsa) yang satu lalu ditulis oleh Tuhan nabi-nabi yang membawa berita gembira dan menyampaikan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka (nabi-nabi tersebut0 kitab yang mengandung kebenaran supaya dia memberikan keputusan antara sesam manusia dalam persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan”.
(Q.S. Al Baqarah: 213)
          Intisari ayat tersebut menegaskan bahwa pada dasarnya manusia merupakan satu rumpun keluarga, yang berasal dari satu nenek moyang yaitu Adam dan Hawa. Oleh karena itu, tidak patut saling bermusuhan hanya karena keturunan, bangsa atau agama. Kecuali kalau ada yang memerangi agama Islam, kita harus memeranginya.
          Menurut M Quraisy Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, setidaknya ada empat macam bentuk persaudaraan.
a.  Ukhuwah Ubudiyyah, atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah SWT.
b. Ukhuwah Insaniyyah, atau (bassariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini dalam sebuah hadits:
                             بي هريرة }   كو نواعبا د الله اخوانا { روه البخا رى عن أ
Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”[3]
(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)
العبا دكلهم إخوة
Artinya:
Hamba-hamba Allah semuanya saudara
c.  Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
d. Ukhuwah fi ad-din ai-Islam, yaitu persaudaraan antar sesama muslim.
Rasulullah bersabda:
أنتم أصحا بي إخوانناالذين يأ تون بعدي
Artinya:
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah (wafat)ku”.
Dengan demikian, persaudaraan dalam Islam mengandung arti cukup luas, tetapi persaudaraan antarsesama muslim adalah pertama dan sangat utama.
B.            Memelihara Silaturahmi
حديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال : سمعت رسولل الله صل الله عليه وسلم يقول : من سره أن يبسط له رزقه أو ينسأ له فى أثره فليصل رحمه.
 { أخرجه البخارى }
Anas bi Malik r.a. berkata, ‘saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda’, “siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung hubungan dengan famili (kerabat)”.
          Silaturahmi artinya menyambung tali persaudaraan. Hadits tersebut menggambarkan betapa pentingnya silaturahmi dalam kehidupan umat Islam. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap rezeki yang merupakan bekal hidup di dunia untuk mengabdi kepada-Nya. Selain itu, orang yang selalu menyambung tali silaturahmi akan dipanjangkan usianya dalam arti kata dikenang selalu.
          Hadits diatas kalau dicermati dengan saksama, sangatlah logis. Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman. Dengan mempunyai banyak teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula telah berusaha meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Hal ini karena ia telah melaksanakan salah satu perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan rezeki dan jalan keluar dalam setiap urusannya. Sesuai dengan firman Allah SWT:
ã =Å¡tFøts Ÿw ß]øymô`ÏB çmø%ãötƒurÇËÈ%[`tøƒxC&©!@yèøgs  ©!$# È,­Gtƒ `tBur
Artinya:
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”.
(Q.S. Ath Thalaq: 2-3)
          Dengan banyak bersilaturahmi, ia akan banyak berbuat kebaikan dengan sesama manusia, yang berarti pula akan semakin banyak mendapat pahala. Pahalanya akan lebih banyak dari pada orang yang tidak pernah bersilaturahmi walaupun umurnya sama. Dengan demikian, seakan-akan dia memiliki umur yang lebih panjang walaupun hakikatnya umurnya sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Selain itu, orang yang banyak bersilaturahmi walaupun sudah meninggal, ia banyak diingat dan dibicarakan, seakan-akan dia hidup terus.
          Banyak bersilaturahmi juga akan menimbulkan rasa kasih sayang antara sesama dan menimbulkan gairah hidup tersendiri, karena ia banyak saudara yang akan bahu-membahu dalam memecahkan berbagai permasalahan hidup yang selalu mengikuti manusia. Sehingga umurnya akan lebih bermanfaat, baik bagi dirniya maupun orang lain.
          Selain kedua manfaat diatas, masih banyak manfaat lainnya. Tidak heran kalau Rasulullah SAW. sangat menekankan silaturahmi, seperti dinyatakan dalam hadits:
وعن أبى سفيان  صخربن حرب رضي الله عنه في حديثه الطويل في قصّة هرقل : أن هرقل قال لأ بي سفيان : فما ذ ايأ مركم به ؟ بعنى النبيّ صلّى الله عليه و سلّم, قال : قلت : يقول : اعبدوا الله وحده ولاتشركوا به شيأ واتر كواما يقول اباؤكم ويأمرنا با لصلاة واصدق واعفاف والصلّة.   (متفق عليه)
“Dan dalam riwayat Abu Sufyan, ketika dia ditanya oleh Raja Hiraklius,’apakah yang diperintahkan oleh nabi itu?’ jawab Abu Sufyan, menyuruh kami menyembah Allah SWT. Dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan meninggalkan semua syariat-syariat ayah kami, dan menyuruh anak kita shalat, berkata benar, sopan, dan menghubungi kaum kerabat”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
C.      Larangan Memutuskan Tali Silaturahmi
حديث أبي أيّوب الأنصا ريّ أنّ رسولالله صلّى الله عليه وسلّم قال : لايحلّ لرجل أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال . يلتقيان فيعرض هذا وخيرهما الّذي يبدأ بالسّلام.
(اخرجه البخارى في : كتاب  لأذب :باب الهجرة وقول رسول الله صلى الله عليه وسلّم :لايحلّ لرجل أنيهجرأخاه فوق ثلاث)[4]
“Abu Ayub Al Anshari r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului memberi salam”.
(H.R. Bukhari)
          Sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesama manusia tidaklah selamanya baik; tidak ada problem dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan antar sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan. Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari, yang ditandai dengan taidak saling menegur sapa dan saling menjauhi. Hal itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
          Memang benar setiap manusia memiliki ego dan gengsi sehingga hal itu sering mengalahkan akal sehat. Akan tetapi, untuk apa mempertahankan gengsi bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama dalam  berhubungan dengan sesama. Apakah arti sifat ego tersebut bila dibandingkan dengan pentingnya persaudaraan dan persatuan umat. Apalagi bila mereka menyadari bahwa mereka yang memutuskan silaturahmi, diancam tidak akan mendapat kebahagiaan kelak di akhirat, yaitu mereka tidak berhak masuk surga. Rasulullah SAW. bersabda:
عن أبى محمدجبيربن مطعم رضي الله عنه أن رسول الله ص.م. قال : لايدخل ا لجنة قاطع. قال سفيان : وفى رواية : يعن قا طع الرحم.
{ البخار مسلم }

“Dari Abu Muhammad bin Muth’im r.a. bahwa Rasulullah SAW.bersabda, tidak akan masuk surga orang yang memutus (hubungan famili). Abu Sufyan berkata,”yakni pemutus hubungan famili (silaturahmi)”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
          Menurut Imam Nawawi, persengketaan harus diakhiri pada hari ketiga, tidak boleh lebih. Menurut sebagian ulama, diantara sebab Islam membolehkan adanya persengketaan selama tiga hari karena dalam jiwa manusia terdapat amarah dan akhlak jelek yang tidak dapat dikuasainya ketika bertengkar atau dalam keadaan marah. Waktu tiga hari diharapkan akan menghilang perasaan tersebut.
          Diantara cara efektif untuk membuka kembali hubungan yang telah terputus adalah dengan mengucapkan salam sebagai tanda dibukanya kembali hubungan kerabatan. Ini bukan berarti orang yang mengucapkan salam terlebih dahulu berarti kalah, tetapi ia telah melakukan perbuatan yang sangat mulia dan terpuji di sisi Allah SWT.
          Sedangkan mereka yang bersikeras memutuskan tali persaudaraan akan mendapatkan laknat dan kutukan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßgoYyès9 ª!$# ö/àS£J|¹r'sù #yJôãr&ur öNèdt»|Áö/r& ÇËÌÈ
Artinya:
“apakah mungkin, jika kamu berkuasa akan mengacau di bumi dan memutus hubungan keluarga. Merekalah yang dikutuk oleh Allah, maka dipekakan dan dibutakan pandangan mereka”.
(Q.S. Muhammad: 22-23)
          Pengaplikasian terhadap pendidikannya adalah kita sebagai pelajar di usahakan memperbanyak silaturahmi. Hindari perselisihan diantara kita yang akan menimbulkan permusuhan dan pencerai-beraian sehingga kita susah untuk berkonsentrasi. Perbanyaklah silaturahmi untuk membentuk suatu ukhuwah Islami yang kuat. Dengan memperbanyak silaturahmi, kita akan mempunyai banyak teman. Mempunyai teman yang banyak akan menambah relasi (chanel) kita. Relasi merupakan salah satu faktor yang akan menunjang kesuksesan kita dalam belajar dan menunjang kesempatan kerja setelah kita lulus nanti dengan selalu bersilaturahmi. Misalnya kita bisa belajar bersama, bertukar pikiran, serta memberikan motivasi untuk lebih baik dimasa mendatang. Manfaat lain yang paling penting adalah ketentraman hati dan berfikir positif kepada setiap manusia.














BAB III
PENUTUP
          Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Ukhuwah dalam Islam itu sangatlah penting dalam keselarasan umat Islam sendiri. Persaudaraan antarumat muslim bagaikan sebuah tubuh yang bilamana terdapat bagian tubuh yang sakit, bagian tubuh yang lainnya pun akan ikut merasakan sakit pula. Wajib hukumnya bagi kaum muslimin untuk menjaga ukhuwah kepada sesama muslim dan kepada non muslim pula, karena pada dasarnya manusia adalah saudara yakni sama-sama dari keturunan Adam dan Hawa. Tetapi dalam hal ukhuwah ini yang paling di wajibkan adalah ukhuwah sesama muslim.
          Perbanyaklah bersilaturahmi kepada sesama muslim terutama kepada sanak famili. Dengan kita meningkatkan tali silaturahmi, kita juga meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, juga akan timbul rasa saling membantu terhadap sesama. Dan janganlah kamu sekali-kali memutuskan tali silaturahmi, karena Allah akan melaknat orang yang memutuskan tali silaturahmi.



\







DAFTAR PUSTAKA

vProf.Dr.H.Syafei,Rachmat.2000.AlHadits(akidah,akhlak,sosial,danhukum)
Pustaka Setia:Bandung.
vH.Hamidi,Zaenuddin.1989.Shahih Bukhari.Widjaya:Jakarta.
vHawwa,Said.2005.Takziatun Nafs.Pena Pundi Aksara:Jakarta.
vMuhammad, Faiz Almath.1999.1100 Hadis Terpilih.Gema Insani:Jakarta.


[1] Rachmat,Syafei.Alhadits. hal199
[2] Hawwa,Said.Tazkiyatun nafs.
Rachmat,Syafei.AlHadits. hal:202-203
[3] Hamidi,Zaenuddin.Shahih Bukhari
Ibid hal 206
[4] Rachmat,Syafei.AlHadits. hal: 210-212
Muhammad,Faiz.Hadits Terpilih

makalah filsafat umum


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Para ilmuan-ilmuan yang terkemuka memberikan definisi tentang ilmu Filsafat namun masing-masing definisi mereka berbeda akan tetapi tidak bertentangan, bahkan saling mengisi dan saling melengkapi. Dan terdapat kesamaan yang saling mempertalikan semua definisi itu. Hal tersebut baik untuk menambah wawasan kita karena dengan mengetahui pengertian dari para ilmuan-ilmuan sebalum kita, kita banyak belajar dari sana. 
Selain pengertian Filsafat kitapun harus mengetahui bagaimana sistematika perkembangan Filsafat dari zaman Yunani kono hingga samapi saat ini karena merupakan pengetahuan yang berma’na bagi kita semua.
Untuk mengetahui dan membuka wawasan rekan-rekan  mahasiswa khususnya, kami penyusun makalah akan membahas sejarah singkat tentang ilmu filsafat, pengertian, dan sistematika perkembangannya.

B.      Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka dapat di simpulkan beberapa rumusan makalah, di antaranya:
1.       Apa Pengertian Filsafat?
2.      Bagaimana Sistematika Perkembangan Filsafat Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Skarang?

C.    Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan Makalah ini, kami penyusun berusaha menjelaskan :
1.      Pengetian Filsafat
2.      Sistematika Perkembangan Filsafat Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Sekarang



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN FILSAFAT
Apakah arti Filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikian pertanyaan yang pertama kali dilontarkan dalam mempelajari ilmu filsafat. Istilah filsafat dapat dilihat  dari dua segi, yaitu:
a.       Segi semantik: perkataan Filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philosopia, yang berarti philos adalah cinta, suka dan sophia adalah pengetahuan, hikmah. Jadi philosophia adalah cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta pada pengetahuan disebut philoshoper. Pecinta pengetahuan adalah yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau yang mengabdikan dirinya terhadap ilmu pengetahuan.[1]
b.      Segi Praktis: dilihat dari pengertian praktisnya, Filsafat berarti ” alam fikiran” atau  “alam berfikir”, berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir itu berfilsafat. Berfilsafat adalah befikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Tegasnya, Filsafat adalah hasil fikir seseorang yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.[2]
Menurut Harun Nasution Filsafat itu berasal dari dua bahasa yaitu Fil di ambil dari bahasa Inggris dan safah di ambil dari bahasa Arab.[3] Berfilsafat artinya berfikir menurut tata  tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat dengan tradisi,dogma serta agama). Selain itu berfilsafat juga berarti berfikir sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar pengertian seperti itu maka menurut harun, secara etimologi Filsafat dapat di definisikan sebagai:
1)         Pengetahuan tentang hikmah
2)         Pengetahuan tentang prinsif atau dasar-dasar segala sesuatu
3)         Mencari kebenaran
4)         Membahas secara mendasar dari apa yang dibahas[4]
Kata shopia berkembang menjadi jenis pengetahuan yang lebih tinggi. Yakni jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran yang murni. Shophia dalam arti ini setidaknya terlihat dari rumusan phytagoras yang menyatakan bahwa hanya dzat yang maha tinggi (Allah) yang mampu memberikan kebenaran murni. Menurut phitagoras manusia hanya mampu sampai pada sifat “pecinta kebijaksaan”. Phitagoras menyatakan “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya meski ia tidak pernah menjadi hikmah itu sendiri.[5]
Karena luasnya lingkungsn pembahasan ilmu Filsafat, maka tidak mustahil jika banyak di antara para ahli filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Yang di antarannya adalah sebagai berikut:
a)                   Plato seorang filsuf Yunani yang termashur murid scrates dan guru dari Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada( Ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli ).[6]
b)                  Aristoteles mengatakan Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, rethorika, etika, ekonomi, politik dan estetika, ( Filsafat menyelidiki sifat dan asas benda).[7]
c)                  Marcus Tullius Cicero politikus dan ahli pidato Romawi merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.[8]
d)               Al-Farabi, Filsuf Islam terbesar sebelum Ibnu Siena, mengatakan: Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.[9]
e)                  Immanuel kant yang sering di sebut raksasa fikir barat, menyatakan: Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala ilmu pengetahuan.[10]
f)                   Prof.Dr. Fuad Hasan, guru besar Psikkologgi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar berfikir radikal, artinya mulai dari radiksnya gejala, dati akarnya suatu hal yang hendak di masalahkan, dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.[11]
g)                  Drs.H. Hasbullah Bakri merumuskan: Ilmu Filsfat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat di capai oleh akal menusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. [12]
Setelah mempelajari rumusan-rumusan definisi tentang pengertian filsafat tersebut di atas dapatlah di simpulkan bahwa:
1.                   Filsafat adalah “ Ilmu Istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
2.                   Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada yaitu:
Ø  Hakikat Tuhan
Ø  Hakikat alam semesta
Ø  Hakikat Manusia
Serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut.
       Orang yang pertama kali menggunakan istilah Filsafat adalah PythagoraS (572-497SM). Ketika itu ia ditanya oleh Leon tentang pekerjaannya, ia menjawab sebagai Philsophis artinya pencinta kearifan atau kebijaksanaan.[13]
Ada beberapa ciri dalam Filsafat yaitu :
1)             Persoalan Filsafat bercorak sangat umum.
2)             Persoalan Filsafat tidak bersifat Empiris.
3)             Menyangkut masalah-masalah asasi.

1.      Filsafat sebagai Ilmu.
Dikatakan Filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian Filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, kemanakah, dan apakah.
Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh indra. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat Deskriptif (penggambaran).
Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab ( asal mula ) suatu obyek. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat Kausalitas ( sebab-akibat ).
Pertanyaan ke mana menanyakan tentang apa yang terjadi dimasa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu : pertama, pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang, yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman. Ini dapat dijadikan dasar utntuk mengetahui apa yang akan terjadi. Kedua, pertanyaan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini tidak dipermasalahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atau tidak. Pedoman yang selalu dipakai disebut Hukum. Ketiga, pengetahuan yang timbul dari pengetahuan yang dipakai sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari jawaban kemanakah adalah pengetahuan yang bersifat Normatif.
Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam dan tidak lagi bersifat Empiris, sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal. Jawaban atau pengetahuan yang diperolenya ini kita akan dapat mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum, universal, abstrak.
Dengan demikian, kalau ilmu-ilmu yang lain ( selain Filsafat ) bergerak dari tidak tahu menjadi tahu, sedang ilmu Filsafat bergerak dari tidak tahu kepada tahu selanjutnya kepada hakikat. Untuk memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan ( sifat-sifat yang tidak harus ada ), sehingga akhirnya tinggal keadaaan/sifat yang harus ada ( mutlak ) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dalam diperolehnya.
2.      Filsafat sebagai cara berpikir.
Berfikir secara Filsafat dapat di artikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai kepada hakikat, atau berpikir secara global. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a)      Harus Sistematis
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pla pengetahuan yang Rasional. Sisitematis adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu dengan yang lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Sisitematika pemikiran seorang Filsuf banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan, dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.
b)      Harus Konsepsional
Secara umum istilah Konsepsional berkaitan dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektial. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya. Sehingga maksud dari Konsepsional tersebut sebagai upaya untuk menyusun bagan yang terkonsepsi ( jelas ). Karrena berpikir secara Filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan proses.
c)      Harus Koheren
Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya, apabila suatu uraian yang di dalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren ( runtut ).
d)     Harus Rasional
Yang dimaksud dengan Rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran Filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaidah berpikir ( logika ).
e)      Harus Sinoptik
Sinoptik artinya pemikiran Filsafat harus melihat hal-hal menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
f)       Harus mengarah kepada pandangan dunia
Yang dimaksud adalah pemikiran Filsafat sebagai upaya untuk memahami suatu Realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan ( hidup ) dunia, termasuk didalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dunia.

B.   SISTEMATIKA PEMBAGIAN FILSAFAT
1.      Masa Yunani
Yunani terletak di Asia kecil. Kehidupan penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan pedagang, sebab sebagian penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah. Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah yang mewarnai kepercayaan yang di anutnya, yaitu berdasarkan kekuatan alam yang beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta bersifat Formalitas. Artinya, kedudukan Tuhan terpisah dengan kehidupan manusia yang memberi kebebasan kepada manusia ( Natural Religion ). Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang kepercayaannya bersifat Rasional ( Cultural Religion ) yang menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan Natural Religion berubah menjadi sistem Cultural Religion. Dalam sistem kepercayaan Natural Religion ini manusia terikat oleh Tradisionalisme. Sedangkan dalam sistem kepercayaan Cultural Religion ini memungkinkan mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikirannya untuk menghadapi dan memecahkan berbagai misteri kehidupan/alam dengan pikiran.
Ahli pikir yang pertama kali muncul adalah Thales ( 625-545 SM ) yang berhasil mengembangkan Geometri dan Matematika, Liokippos dan Demokritos mengembangkan teori materi Hipokrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan Geometri deduktif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang ide, Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan benda dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang ( Ilmu Biologi ). Suatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran ( Logika Formal ) yang sampai sekarang masih dikenal. Para ahli pikir Yunani kuno ini mencoba membuat konsep tentang asal mula alam walaupun sebelumnya sudah ada tentang konsep tersebut. Akan tetapi, konsepnya bersifat mitos yaitu Mite Kosmogonis ( tentang asal usul manusia ) dan Mite Kosmologis tentang asal usul serta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta ) sehingga konsep mereka sebagai mencari Arche  ( asal mula ) alam semesta. Hal itu disebutnya sebagai Filosof Alam. Karena arah pemikiran Filsafatnya pada alam semesta, corak pemikirannya disebut kosmosentris. Sementara itu, para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang hidup pada masa Yunani Klasik arah pemikirannya pada manusia, maka corak pemikiran Filsafatnya disebut Antroposentris. Hal ini disebabkan arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subjek yang harus bertanggung jawab atas segala tindakannya.
2.      Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya Filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan Filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka Filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran Filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat Teosentris. Menurut Pringgodigdo pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapat dukungan dari Karel Agung maka didirikanlah sekolah-sekolah yang memberi pelajaran Gramatika, dialektika, Geometri, Aritmetika, Astronomi, dan musik. Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemikiran Filsafat pada abad ke-13 yang di tandai berdirinya Universitas-universitas dan Ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka mengabdikan dirinya untuk memajukan ilmu dan agama, seperti Anselmus ( 1033-1109 ), Abaelardus ( 1079-1143 ), Thomas Aquinas (1225-1274 ).
Di kalangan para ahli pikir Islam ( periode Filsafat Skolastik Islam ) muncul : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Inbu Rusyd. Peiode Skolastik Islam ini berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berkembang dengan pesat. Akan tetapi, setelah jatuhnya kerajaan Islam di Granada Spanyol tahun 1492 mulailah kekuatan plitik Barat menjarah ke Timur. Suatu prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Filsafat. Di sini mereka merupakan matarantai yang mentransfer Filsafat Yunani, sebagai mana yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Islam di Timur terhadap Eropa dengan menambah pikiran-pikiran Islam sendiri. Peralihan pada abad pertengahan ke abad modern dalam sejarah Filsafat disebut sebagai masa peralihan, yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme, yang berlangsung pada abad 15-16. Munculnya Renaissance dan Humanisme yang mengawali masa abad modern. Mulai zaman modern inilah peranan Ilmu akan kodrat sangat menonjol sehingga akibatnya pemikiran Filsafat semakin dianggap sebagai pelayan Teologi, yaitu sebagai suatu sarana untuk menetaopkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia.
3.      Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran Filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya Antroposentrik, yaitu pemikiran Filsafatnya mendasarkan pada akal pikiran dan pengalaman. Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Ranassance dan Humanisme sebagai awal masa abad modern di mana para ahli ( Filosof ) menjadi pelopor perkembangan Filsafat ( kalau pada masa abad pertengahan yang menjadi pelopor perkembangan Filsafat adalah para pemuka Agama ). Pemikiran Filsafat pada masa abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar secara modern. Pemikiran Filsafat di upayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran Filsafat diaarahkan pada upaya manusia agar dapat menguasai lingkungan alam dengan menggunakan berbagai penemuan Ilmiah.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode Eksperimental dalam berbagai penelitian Ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran Filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat ( Natural Sciences ). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak bapak Filsafat modern berhasil melahirakan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu pasti kedalam pemikiran Filsafat. Upaya ini di maksudkan agar kebenaran dan kenyataan Filsafat juga sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan terang. Pada abad ke -18 perkembangan pemikiran Filsafat mengarah pada Filsafat ilmu pengetahuan, dimana pemikiran Filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara apayang di pakai untuk mensari kebenaran dan kenyataan. Tokoh-tokohnya adalah antara lalin George Berkeley ( 1685-1753 ), David Hume ( 1711-1776 ), dan Rousseau ( 1722-1778 ).
Di Jerman muncul Christian Wolft ( 1679-1754 ) dan Immanuel kant ( 1724-1804 ) yang mengupayakan agar Filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti bergunan, yaitu dengan cara membenntuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang kuat. Abad ke-19, perkembangan pemikiran Filsafat terpecah belah. Pemikiran Filsafat pada saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bengasa dengan pengetian dan caranya sendiri. Ada Filsafat Amerika, Filsafat Francis, Filsafat Inggris, dan Filsafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah : Hegel ( 1770-1831 ), Karl Marx ( 1881-1883 ), August Comte (1798-1857), JS. Mill ( 1806-1873 ), dan John Dewey ( 1858-1952 ). Akhirnya, munculnya pemikiran Filsafat yang bermacam-macam ini, berakibat tidak terdapat lagi pemikiran Filsafat yang mendominasi.
4.      Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga di sebut filsafat kontemporer. Ciri khas pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia karena pemikiran Filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.
Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti pertanyaan-pertanyaan. Masalah ini muncul karena realitas sekarang ini banyak bermunculan bebagai istilah yang cara pemakaiannya sering tidak di fikirkan secara mendalam sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beda pula. Maka timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas tentang cara berfikir untuk mengatur pemakaian kata0kata yang menimbulkan kerancuan, sekaligus dapat menimbulkan bahaya-bahaya yang terdapat di dalamnya. Karena bahasa sebagai obyek terpenting dalam pemikiran filsafat, para fikir menyebutnya sebagai logosentris. Bidang etika sosial memuat pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat didalam masyarakat dewasa ini.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philosopia, yang berarti philos adalah cinta, suka dan sophia adalah pengetahuan, hikmah. Jadi philosophia adalah cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan.
Filsafat adalah “ Ilmu Istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada yaitu:
Ø  Hakikat Tuhan
Ø  Hakikat alam semesta
Ø  Hakikat Manusia
Serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut.
Sistematika Filsafat dari zaman Yunani sampai sekarang ini dapat di simpulkan sebagai beirkut:
1.      Masa Yunani
Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang kepercayaannya bersifat Rasional ( Cultural Religion ) yang menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan Natural Religion berubah menjadi sistem Cultural Religion. Dalam sistem kepercayaan Natural Religion ini manusia terikat oleh Tradisionalisme.
Ahli pikir yang pertama kali muncul adalah Thales ( 625-545 SM ) yang berhasil mengembangkan Geometri dan Matematika, Liokippos dan Demokritos mengembangkan teori materi Hipokrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan Geometri deduktif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang ide, Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan benda dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang ( Ilmu Biologi ).
2.      Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya Filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan Filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka Filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran Filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat Teosentris
Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemikiran Filsafat pada abad ke-13 yang di tandai berdirinya Universitas-universitas dan Ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka mengabdikan dirinya untuk memajukan ilmu dan agama, seperti Anselmus ( 1033-1109 ), Abaelardus ( 1079-1143 ), Thomas Aquinas (1225-1274 ).
Di kalangan para ahli pikir Islam ( periode Filsafat Skolastik Islam ) muncul : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Inbu Rusyd. Peiode Skolastik Islam ini berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berkembang dengan pesat.
3.      Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran Filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya Antroposentrik, yaitu pemikiran Filsafatnya mendasarkan pada akal pikiran dan pengalaman.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode Eksperimental dalam berbagai penelitian Ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran Filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat ( Natural Sciences ). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak bapak Filsafat modern berhasil melahirakan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu pasti kedalam pemikiran Filsafat.
4.      Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga di sebut filsafat kontemporer. Ciri khas pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia karena pemikiran Filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.


DAFTAR PUSTAKA


Ø  Syadali Ahmad, Mudzakir.1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia
Ø  Sumarna Cecep.2010. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press
Ø  Poerwantana, Ahmadi, Rosali. Filsafat Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya




[1] A.Syadali, Mudzakir, Filsafat Umum, 1997, Bandung: Pusataka Setia, hlm 11
[2] Ibid
[3] Cecep Sumarna, Filsafat ilmu, 2010, Bandung: Mulia Press, hlm 50
[4] Op Cit Cecep Sumarna hlm 50
[5] Ibid hlm 51
[6] Op Cit A Syadali, Mudzakir Hlm 15
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] Ibid Hlm 16
[10] Op Cit A.Syadali. Mudzakir Hlm 16
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid hlm 12