BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Manusia adalah makhluk sosial. Jadi tidak dapat dihindari
komunikasi atau hubungan antar sesama. Dengan kejadian seperti ini, ukhuwah
dengan sendirinya akan terbentuk. Dalam Islam dikenal bermacam-macam ukhuwah
yang pada intinya adalah persaudaraan antarsesama muslim maupun non muslim.
Untuk menciptakan ukhuwah yang baik, perlu adanya silaturahmi kepada sesama.
Dengan bersilaturahmi akan mendatangkan keakraban dan kasih mengasihi antar
sesama, khususnya silaturahmi kepada sanak famili. Dalam hal ini yang dapat
memutuskan tali persaudaraan adalah kurangnya rasa peduli kita, memang manusia
mempunyai sifat yang egois yang dapat menimbulkan permusuhan. Hal ini sebaiknya
dihindari oleh kita selaku umat Islam. Karena Allah SWT akan melaknat orang
yang memutus tali persaudaraan.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa yang dimaksud Ukhuwah ?
2.
Bagaimana menyambung silaturahmi ?
3.
Mengapa dilarang memutus silaturahmi ?
C.
Tujuan penulisan
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud Ukhuwah.
2.
Untuk mengetahui bagaimana menyambung silaturahmi.
3.
Untuk mengetahui larangan memutus silaturahmi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ukhuwah
Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu didudukan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada kesan bahwa istilah teresebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau dengan kata lain , kata “islamiyah” dujadikan sebagai pelaku ukhuwah.
Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiva, sehingga ukhuwah islamiyah berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-Qur’an dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata “ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah”.
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.[1]
Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu didudukan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada kesan bahwa istilah teresebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau dengan kata lain , kata “islamiyah” dujadikan sebagai pelaku ukhuwah.
Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiva, sehingga ukhuwah islamiyah berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-Qur’an dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata “ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah”.
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.[1]
عن
ا لنّعما بن بشير رضى الله عنهما قال : قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلّم : ترى
المؤمنين في ترا حمهم وتوادّهم وتعا طفهم كمثل الجسد اذاشتكى عضو تدا عى سا ئر
جسده با السّهر والحمّى
{ اخر جه البخرى : كتاب
الاذب : با ب رحمة النا س والبها ئم }
“An-nu’man bin Basyir berkata,’Nabi SAW.bersabda,’anda akan
melihat kaum mukminin dalam kasih sayang dan cinta mencintai, pergaulan mereka
bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada
lain-lain anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat
tidur”.
(H.R.
Bukhari)
Hadist
di atas menggambarkan hakikat hubungan antara sesama kaum Muslimin yang begitu
eratnya menurut Islam. Hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta,
dan pergaulan diibaratrkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain
saling membutuhkan, mersakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika anggota
badan tersebut sakit, anggota basdan
lainnya ikut merasakan sakit. Hubungan itu menggambarkan betapa kokohnya
hubungan antar sesama umat Muslim.
Itulah
salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum Muslim dalam
hubungannya sesama kaum Muslimin. Sifat egois dan mementingkan diri sendiri
sangan ditentang oleh Islam. Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya untuk bersatu
dan saling membantu. Itulah yang akan menjadi pangkal kekuatan kaum Muslimin.
Setiap Muslim merasakan penderitaan saudaranya dan mengulurkan tangannya untuk
membantu sebelum diminta, yang tidak didasarkan atas pujian dan imbalan, tetapi
berdasaarkan Lillah.
Keadaan
seperti ini telah dicontohkan oleh kaum Mukminin pada masa kepemimpinan
Rasulullah SAW di Madinah ketika Beliau dan paara sahabat Hijkrah ke Madinah.
Di kota inilah persaudaraan antar umat Islam terlihat sangat nyata. Penduduk
kota Madinah menyambut kedatangan kaum Muhajirin dengan suka cita, melebihi
sambutan kepada orang lain karena pertalian darah atau keluarga. Segala
keperluan dan kepentingan kaum Muhajirin, mulai dari tempat tinggal, makanan,
serta kebutuhan lainnya mendapat santunan dari penduduk kota [2]Madinah.
Tidak mengherankan jika penduduk kota Madinah mendapat sebutan kaum Anshor,
yakni kaum penolong dan pembela dalam arti yang luas, tanpa mengharapkan
balasan apapun.
Bukti
persaudaraan, kasih sayang dan keramahtamahan yang memiliki nilai keikhlasan
yang sangat tinggi dari kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin diabadikan dalam
Al-Quran:
tûïÏ%©!$#ur râä§qt7s? u#¤$!$# z`»yJM}$#ur `ÏB ö/ÅÏ=ö7s% tbq7Ïtä ô`tB ty_$yd öNÍkös9Î) wur tbrßÅgs Îû öNÏdÍrßß¹ Zpy_%tn !$£JÏiB (#qè?ré& crãÏO÷sãur #n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4
Artinya:
“
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah
kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada merka (orang Muhajirin) ddan mereka mengutamakan
orang lain dari pada diri mereka walaupun diri mereka sendiri kekurangan.”
(Q.S.
Al-Hasyr: 9)
Pada masa itu kaum Muslimin betul-betul
bersatu dan bersaudara sehingga menjadi satu kekuatan yang sulit ditandingi
oleh musuh walaupun jumlah kaum Muslimin
tidak terlalu banyak. Akan tetapi, sangat disayangkan, pada saat ini
semakin lama umat Islam bercerai berai walaupun dari segi jumlah semakin
banyak. Kaum Muslimin tidak lagi mau bersatu sehingga menjadi lemah.
Menurut
pendapat kami, bahwa pada awal mulanya terjadinya pengkotak kotakan umat islam
di bumi nusantara berawal ketika pada saat pemilu bermunculan partai-partai
umat islam yang pada awal mulanya partai Islam tergabung dalam satu partai maka
tidak heran terjadi fanatisme golongan pada saat ini. Maka hendaknya setelah
kita merasakan bahwa telah terjadi pengkotak kotakan diantara kita, kita mesti
saling bertoleransi dalam segala perbedaan, karena pada hakikatnya perbedaan
adalah rahmat. Ketika semua umat Islam mempunyai rasa toleransi yang tinggi
yang terjadi adalah suatu integralitas atau dengan kata lain akan lahir nilai
Tauhid yakni satu kesatuan diantara kita.
Persatuan
dan kesatuan merupakan nikmat yang sangat besar, yang harus disyukuri oleh umat
Muslim dengan cara mempertahankannya. Persaudaraan dan kesatuan akan membawa
kepada kesuksesa atau kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
Allah
SWT berfirman dalam surat Al Imran ayat 103 yang berbunyi:
(#rãä.ø$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3øn=tæ øÎ) ÷LäêZä. [ä!#yôãr& y#©9r'sù tû÷üt/ öNä3Î/qè=è% Läêóst7ô¹r'sù ÿ¾ÏmÏFuK÷èÏZÎ/ $ZRºuq÷zÎ) ÷LäêZä.ur 4n?tã $xÿx© ;otøÿãm z`ÏiB Í$¨Z9$# Nä.xs)Rr'sù $pk÷]ÏiB 3
Artinya:
“Ingatlah karunia Tuhan kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan karunia Tuhan itu kamu menjadi bersaudara, dahulu kamu berada di tepi jurang yang curam (neraka). Maka Tuhan melepaskan kamu darinya”.
“Ingatlah karunia Tuhan kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan karunia Tuhan itu kamu menjadi bersaudara, dahulu kamu berada di tepi jurang yang curam (neraka). Maka Tuhan melepaskan kamu darinya”.
(Q.S.
Ali Imran: 103)
Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat
bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah
dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum masuknya Islam selalu berperang dan
bercerai-berai, tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki
pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat bersatu.
Akan tetapi, persamaan akidah yang dimaksud disini adalah
dalam arti sebenarnya, lahir batin bukan hanya label atau pengakuan saja. Jika
tidak demikian, persamaan akidah tidak mungkkin mampu mempersatukan dan
mengembalikan kembali kejayaan umat Islam seperti pada masa pendahulu Islam.
Namun demikian, tidak berarti bahwa umat Islam dilarang
untuk berhubungan dan bersahabat dengan umat selain Islam. Umat Islam pun
dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka karena pada dasarnya semua manusia
itu berasal dari bapak yang sama, yakni Adam. Allah SWT . berfirman:
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhÎ;¨Y9$# úïÌÏe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmÏù 4
Artinya:
“Manusia
adalah umat (bangsa) yang satu lalu ditulis oleh Tuhan nabi-nabi yang membawa
berita gembira dan menyampaikan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka
(nabi-nabi tersebut0 kitab yang mengandung kebenaran supaya dia memberikan
keputusan antara sesam manusia dalam persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan”.
(Q.S. Al Baqarah: 213)
Intisari ayat tersebut menegaskan
bahwa pada dasarnya manusia merupakan satu rumpun keluarga, yang berasal dari
satu nenek moyang yaitu Adam dan Hawa. Oleh karena itu, tidak patut saling
bermusuhan hanya karena keturunan, bangsa atau agama. Kecuali kalau ada yang
memerangi agama Islam, kita harus memeranginya.
Menurut
M Quraisy Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, setidaknya
ada empat macam bentuk persaudaraan.
a. Ukhuwah Ubudiyyah,
atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah SWT.
b. Ukhuwah Insaniyyah, atau
(bassariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena berasal
dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini dalam sebuah
hadits:
بي هريرة } كو نواعبا د الله اخوانا { روه البخا رى عن أ
“Jadilah
kalian hamba Allah yang bersaudara”[3]
(H.R.
Bukhari dari Abu Hurairah)
العبا
دكلهم إخوة
Artinya:
“Hamba-hamba
Allah semuanya saudara”
c. Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab,
yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
d. Ukhuwah fi ad-din ai-Islam, yaitu
persaudaraan antar sesama muslim.
Rasulullah bersabda:
أنتم أصحا بي
إخوانناالذين يأ تون بعدي
Artinya:
“Kalian
adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah
(wafat)ku”.
Dengan
demikian, persaudaraan dalam Islam mengandung arti cukup luas, tetapi
persaudaraan antarsesama muslim adalah pertama dan sangat utama.
B.
Memelihara
Silaturahmi
حديث
أنس بن مالك رضي الله عنه قال : سمعت رسولل الله صل الله عليه وسلم يقول : من سره
أن يبسط له رزقه أو ينسأ له فى أثره فليصل رحمه.
{ أخرجه البخارى }
“Anas
bi Malik r.a. berkata, ‘saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda’, “siapa
yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung
hubungan dengan famili (kerabat)”.
Silaturahmi artinya menyambung tali
persaudaraan. Hadits tersebut menggambarkan betapa pentingnya silaturahmi dalam
kehidupan umat Islam. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh
terhadap rezeki yang merupakan bekal hidup di dunia untuk mengabdi kepada-Nya.
Selain itu, orang yang selalu menyambung tali silaturahmi akan dipanjangkan
usianya dalam arti kata dikenang selalu.
Hadits diatas kalau dicermati dengan
saksama, sangatlah logis. Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki
banyak teman. Dengan mempunyai banyak teman akan memperbanyak saudara dan
berarti pula telah berusaha meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Hal ini
karena ia telah melaksanakan salah satu perintah-Nya, yakni menghubungkan
silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan rezeki dan
jalan keluar dalam setiap urusannya. Sesuai dengan firman Allah SWT:
ã =Å¡tFøts w ß]øymô`ÏB çmø%ãöturÇËÈ%[`tøxC&©!@yèøgs ©!$# È,Gt `tBur
Artinya:
“Barang
siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar. Dan memberikanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”.
(Q.S. Ath Thalaq: 2-3)
Dengan banyak bersilaturahmi, ia akan
banyak berbuat kebaikan dengan sesama manusia, yang berarti pula akan semakin
banyak mendapat pahala. Pahalanya akan lebih banyak dari pada orang yang tidak
pernah bersilaturahmi walaupun umurnya sama. Dengan demikian, seakan-akan dia
memiliki umur yang lebih panjang walaupun hakikatnya umurnya sesuai dengan yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT. Selain itu, orang yang banyak bersilaturahmi
walaupun sudah meninggal, ia banyak diingat dan dibicarakan, seakan-akan dia
hidup terus.
Banyak bersilaturahmi juga akan
menimbulkan rasa kasih sayang antara sesama dan menimbulkan gairah hidup tersendiri,
karena ia banyak saudara yang akan bahu-membahu dalam memecahkan berbagai
permasalahan hidup yang selalu mengikuti manusia. Sehingga umurnya akan lebih
bermanfaat, baik bagi dirniya maupun orang lain.
Selain kedua manfaat diatas, masih
banyak manfaat lainnya. Tidak heran kalau Rasulullah SAW. sangat menekankan
silaturahmi, seperti dinyatakan dalam hadits:
وعن
أبى سفيان صخربن حرب رضي الله عنه في
حديثه الطويل في قصّة هرقل : أن هرقل قال لأ بي سفيان : فما ذ ايأ مركم به ؟ بعنى
النبيّ صلّى الله عليه و سلّم, قال : قلت : يقول : اعبدوا الله وحده ولاتشركوا به
شيأ واتر كواما يقول اباؤكم ويأمرنا با لصلاة واصدق واعفاف والصلّة. (متفق عليه)
“Dan
dalam riwayat Abu Sufyan, ketika dia ditanya oleh Raja Hiraklius,’apakah yang
diperintahkan oleh nabi itu?’ jawab Abu Sufyan, menyuruh kami menyembah Allah
SWT. Dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan meninggalkan semua
syariat-syariat ayah kami, dan menyuruh anak kita shalat, berkata benar, sopan,
dan menghubungi kaum kerabat”.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)
C. Larangan Memutuskan Tali Silaturahmi
حديث
أبي أيّوب الأنصا ريّ أنّ رسولالله صلّى الله عليه وسلّم قال : لايحلّ لرجل
أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال . يلتقيان فيعرض هذا وخيرهما الّذي يبدأ بالسّلام.
(اخرجه
البخارى في : كتاب لأذب :باب الهجرة وقول
رسول الله صلى الله عليه وسلّم :لايحلّ لرجل أنيهجرأخاه فوق ثلاث)[4]
“Abu
Ayub Al Anshari r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Tidak dihalalkan
bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari sehingga jika
bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului
memberi salam”.
(H.R. Bukhari)
Sudah menjadi sunnatullah bahwa
hubungan sesama manusia tidaklah selamanya baik; tidak ada problem dan
pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus
perlombaan antar sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama
dan tidak mungkin dapat dihindarkan. Namun demikian, gesekan atau permusuhan
tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari, yang ditandai
dengan taidak saling menegur sapa dan saling menjauhi. Hal itu tidak dibenarkan
dalam ajaran Islam.
Memang benar setiap manusia memiliki
ego dan gengsi sehingga hal itu sering mengalahkan akal sehat. Akan tetapi,
untuk apa mempertahankan gengsi bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama
dalam berhubungan dengan sesama. Apakah
arti sifat ego tersebut bila dibandingkan dengan pentingnya persaudaraan dan
persatuan umat. Apalagi bila mereka menyadari bahwa mereka yang memutuskan
silaturahmi, diancam tidak akan mendapat kebahagiaan kelak di akhirat, yaitu
mereka tidak berhak masuk surga. Rasulullah SAW. bersabda:
عن
أبى محمدجبيربن مطعم رضي الله عنه أن رسول الله ص.م. قال : لايدخل ا لجنة قاطع.
قال سفيان : وفى رواية : يعن قا طع الرحم.
{ البخار مسلم
}
“Dari
Abu Muhammad bin Muth’im r.a. bahwa Rasulullah SAW.bersabda, tidak akan masuk
surga orang yang memutus (hubungan famili). Abu Sufyan berkata,”yakni pemutus
hubungan famili (silaturahmi)”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Nawawi, persengketaan
harus diakhiri pada hari ketiga, tidak boleh lebih. Menurut sebagian ulama,
diantara sebab Islam membolehkan adanya persengketaan selama tiga hari karena
dalam jiwa manusia terdapat amarah dan akhlak jelek yang tidak dapat
dikuasainya ketika bertengkar atau dalam keadaan marah. Waktu tiga hari
diharapkan akan menghilang perasaan tersebut.
Diantara cara efektif untuk membuka
kembali hubungan yang telah terputus adalah dengan mengucapkan salam sebagai
tanda dibukanya kembali hubungan kerabatan. Ini bukan berarti orang yang
mengucapkan salam terlebih dahulu berarti kalah, tetapi ia telah melakukan
perbuatan yang sangat mulia dan terpuji di sisi Allah SWT.
Sedangkan mereka yang bersikeras
memutuskan tali persaudaraan akan mendapatkan laknat dan kutukan Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya:
ö@ygsù óOçFø|¡tã bÎ) ÷Läêø©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßgoYyès9 ª!$# ö/àS£J|¹r'sù #yJôãr&ur öNèdt»|Áö/r& ÇËÌÈ
Artinya:
“apakah
mungkin, jika kamu berkuasa akan mengacau di bumi dan memutus hubungan
keluarga. Merekalah yang dikutuk oleh Allah, maka dipekakan dan dibutakan
pandangan mereka”.
(Q.S. Muhammad: 22-23)
Pengaplikasian terhadap pendidikannya
adalah kita sebagai pelajar di usahakan memperbanyak silaturahmi. Hindari
perselisihan diantara kita yang akan menimbulkan permusuhan dan
pencerai-beraian sehingga kita susah untuk berkonsentrasi. Perbanyaklah
silaturahmi untuk membentuk suatu ukhuwah Islami yang kuat. Dengan memperbanyak
silaturahmi, kita akan mempunyai banyak teman. Mempunyai teman yang banyak akan
menambah relasi (chanel) kita. Relasi merupakan salah satu faktor yang akan
menunjang kesuksesan kita dalam belajar dan menunjang kesempatan kerja setelah
kita lulus nanti dengan selalu bersilaturahmi. Misalnya kita bisa belajar
bersama, bertukar pikiran, serta memberikan motivasi untuk lebih baik dimasa
mendatang. Manfaat lain yang paling penting adalah ketentraman hati dan
berfikir positif kepada setiap manusia.
BAB III
PENUTUP
Dari
uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Ukhuwah dalam Islam itu sangatlah
penting dalam keselarasan umat Islam sendiri. Persaudaraan antarumat muslim
bagaikan sebuah tubuh yang bilamana terdapat bagian tubuh yang sakit, bagian
tubuh yang lainnya pun akan ikut merasakan sakit pula. Wajib hukumnya bagi kaum
muslimin untuk menjaga ukhuwah kepada sesama muslim dan kepada non muslim pula,
karena pada dasarnya manusia adalah saudara yakni sama-sama dari keturunan Adam
dan Hawa. Tetapi dalam hal ukhuwah ini yang paling di wajibkan adalah ukhuwah
sesama muslim.
Perbanyaklah bersilaturahmi kepada sesama
muslim terutama kepada sanak famili. Dengan kita meningkatkan tali silaturahmi,
kita juga meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, juga akan timbul rasa
saling membantu terhadap sesama. Dan janganlah kamu sekali-kali memutuskan tali
silaturahmi, karena Allah akan melaknat orang yang memutuskan tali silaturahmi.
\
DAFTAR PUSTAKA
vProf.Dr.H.Syafei,Rachmat.2000.AlHadits(akidah,akhlak,sosial,danhukum)
Pustaka
Setia:Bandung.
vH.Hamidi,Zaenuddin.1989.Shahih
Bukhari.Widjaya:Jakarta.
vHawwa,Said.2005.Takziatun
Nafs.Pena Pundi Aksara:Jakarta.
vMuhammad, Faiz Almath.1999.1100 Hadis Terpilih.Gema
Insani:Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar