BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Para
ilmuan-ilmuan yang terkemuka memberikan definisi tentang ilmu Filsafat namun
masing-masing definisi mereka berbeda akan tetapi tidak bertentangan, bahkan
saling mengisi dan saling melengkapi. Dan terdapat kesamaan yang saling
mempertalikan semua definisi itu. Hal tersebut baik untuk menambah wawasan kita
karena dengan mengetahui pengertian dari para ilmuan-ilmuan sebalum kita, kita
banyak belajar dari sana.
Selain
pengertian Filsafat kitapun harus mengetahui bagaimana sistematika perkembangan
Filsafat dari zaman Yunani kono hingga samapi saat ini karena merupakan
pengetahuan yang berma’na bagi kita semua.
Untuk mengetahui
dan membuka wawasan rekan-rekan
mahasiswa khususnya, kami penyusun makalah akan membahas sejarah singkat
tentang ilmu filsafat, pengertian, dan sistematika perkembangannya.
B.
Rumusan
Masalah
Dari uraian
latar belakang di atas maka dapat di simpulkan beberapa rumusan makalah, di
antaranya:
1. Apa
Pengertian Filsafat?
2. Bagaimana Sistematika Perkembangan
Filsafat Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Skarang?
C.
Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan
Makalah ini, kami penyusun berusaha menjelaskan :
1. Pengetian Filsafat
2. Sistematika Perkembangan Filsafat Dari
Zaman Yunani Kuno Sampai Sekarang
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN FILSAFAT
Apakah
arti Filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikian pertanyaan yang pertama kali
dilontarkan dalam mempelajari ilmu filsafat. Istilah filsafat dapat
dilihat dari dua segi, yaitu:
a. Segi semantik: perkataan Filsafat
berasal dari bahasa yunani yaitu philosopia,
yang berarti philos adalah cinta, suka dan sophia adalah pengetahuan,
hikmah. Jadi philosophia adalah cinta pada
kebijaksanaan atau cinta pada
pengetahuan. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi
bijaksana. Orang yang cinta pada pengetahuan disebut philoshoper. Pecinta pengetahuan adalah yang menjadikan ilmu
pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau yang mengabdikan dirinya terhadap
ilmu pengetahuan.[1]
b. Segi Praktis: dilihat dari pengertian
praktisnya, Filsafat berarti ” alam fikiran” atau “alam
berfikir”, berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir itu
berfilsafat. Berfilsafat adalah befikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Tegasnya, Filsafat adalah hasil fikir seseorang yang mencari dan memikirkan
suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah
mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.[2]
Menurut Harun Nasution
Filsafat itu berasal dari dua bahasa yaitu Fil
di ambil dari bahasa Inggris dan safah
di ambil dari bahasa Arab.[3] Berfilsafat
artinya berfikir menurut tata tertib
(logika) dengan bebas (tidak terikat dengan tradisi,dogma serta agama). Selain
itu berfilsafat juga berarti berfikir sedalam-dalamnya sehingga sampai ke
dasar-dasar persoalannya. Atas dasar pengertian seperti itu maka menurut harun,
secara etimologi Filsafat dapat di definisikan sebagai:
1)
Pengetahuan
tentang hikmah
2)
Pengetahuan
tentang prinsif atau dasar-dasar segala sesuatu
3)
Mencari
kebenaran
4)
Membahas
secara mendasar dari apa yang dibahas[4]
Kata
shopia berkembang menjadi jenis
pengetahuan yang lebih tinggi. Yakni jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan
manusia untuk mengetahui kebenaran yang murni. Shophia dalam arti ini setidaknya terlihat dari rumusan phytagoras
yang menyatakan bahwa hanya dzat yang maha tinggi (Allah) yang mampu memberikan
kebenaran murni. Menurut phitagoras manusia hanya mampu sampai pada sifat “pecinta kebijaksaan”. Phitagoras
menyatakan “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan
berusaha untuk mencapainya meski ia tidak pernah menjadi hikmah itu sendiri.[5]
Karena
luasnya lingkungsn pembahasan ilmu Filsafat, maka tidak mustahil jika banyak di
antara para ahli filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Yang di
antarannya adalah sebagai berikut:
a)
Plato
seorang filsuf Yunani yang termashur murid scrates dan guru dari Aristoteles,
mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada( Ilmu
pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli ).[6]
b)
Aristoteles
mengatakan Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di
dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, rethorika, etika, ekonomi, politik
dan estetika, ( Filsafat menyelidiki sifat dan asas benda).[7]
c)
Marcus
Tullius Cicero politikus dan ahli pidato Romawi merumuskan: Filsafat adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.[8]
d)
Al-Farabi,
Filsuf Islam terbesar sebelum Ibnu Siena, mengatakan: Filsafat adalah ilmu
pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang
sebenarnya.[9]
e)
Immanuel
kant yang sering di sebut raksasa fikir barat, menyatakan: Filsafat itu ilmu
pokok dan pangkal segala ilmu pengetahuan.[10]
f)
Prof.Dr.
Fuad Hasan, guru besar Psikkologgi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu
ikhtiar berfikir radikal, artinya mulai dari radiksnya gejala, dati akarnya
suatu hal yang hendak di masalahkan, dan dengan jalan penjajakan yang radikal
itu filsafat berusaha sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.[11]
g)
Drs.H.
Hasbullah Bakri merumuskan: Ilmu Filsfat adalah ilmu yang menyelidiki segala
sesuatu secara mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
di capai oleh akal menusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah
mencapai pengetahuan itu. [12]
Setelah mempelajari rumusan-rumusan
definisi tentang pengertian filsafat tersebut di atas dapatlah di simpulkan bahwa:
1.
Filsafat
adalah “ Ilmu Istimewa” yang mencoba
menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa
karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
2.
Filsafat
adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau
mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada yaitu:
Ø Hakikat Tuhan
Ø Hakikat alam semesta
Ø Hakikat Manusia
Serta sikap manusia sebagai konsekuensi
dari paham tersebut.
Orang
yang pertama kali menggunakan istilah Filsafat adalah PythagoraS (572-497SM).
Ketika itu ia ditanya oleh Leon tentang pekerjaannya, ia menjawab sebagai
Philsophis artinya pencinta kearifan atau kebijaksanaan.[13]
Ada
beberapa ciri dalam Filsafat yaitu :
1)
Persoalan
Filsafat bercorak sangat umum.
2)
Persoalan
Filsafat tidak bersifat Empiris.
3)
Menyangkut
masalah-masalah asasi.
1.
Filsafat sebagai Ilmu.
Dikatakan Filsafat sebagai ilmu karena di dalam
pengertian Filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, kemanakah, dan
apakah.
Pertanyaan
bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh
indra. Jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat Deskriptif (penggambaran).
Pertanyaan
mengapa menanyakan tentang sebab ( asal mula ) suatu obyek. Jawaban atau
pengetahuan yang diperolehnya bersifat
Kausalitas ( sebab-akibat ).
Pertanyaan
ke mana menanyakan tentang apa yang terjadi dimasa lampau, masa sekarang, dan
masa yang akan datang. Jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu
: pertama, pengetahuan yang timbul
dari hal-hal yang selalu berulang-ulang, yang nantinya pengetahuan tersebut
dapat dijadikan sebagai pedoman. Ini dapat dijadikan dasar utntuk mengetahui
apa yang akan terjadi. Kedua,
pertanyaan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat
istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini tidak
dipermasalahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atau tidak. Pedoman yang
selalu dipakai disebut Hukum. Ketiga,
pengetahuan yang timbul dari pengetahuan yang dipakai sebagai suatu hal yang
dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari jawaban kemanakah
adalah pengetahuan yang bersifat Normatif.
Pertanyaan
apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat
ini sifatnya sangat dalam dan tidak lagi bersifat Empiris, sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal. Jawaban atau
pengetahuan yang diperolenya ini kita akan dapat mengetahui hal-hal yang
sifatnya sangat umum, universal, abstrak.
Dengan demikian,
kalau ilmu-ilmu yang lain ( selain Filsafat ) bergerak dari tidak tahu menjadi
tahu, sedang ilmu Filsafat bergerak dari tidak tahu kepada tahu selanjutnya
kepada hakikat. Untuk memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan
abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat
yang secara kebetulan ( sifat-sifat yang tidak harus ada ), sehingga akhirnya
tinggal keadaaan/sifat yang harus ada ( mutlak ) yaitu substansia, maka
pengetahuan hakikat dalam diperolehnya.
2.
Filsafat sebagai cara berpikir.
Berfikir secara Filsafat dapat di
artikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai kepada hakikat, atau
berpikir secara global. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat
berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Harus Sistematis
Pemikiran yang sistematis ini
dimaksudkan untuk menyusun suatu pla pengetahuan yang Rasional. Sisitematis
adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu dengan yang lain secara
teratur dalam suatu keseluruhan. Sisitematika pemikiran seorang Filsuf banyak
dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan, dan sistem
pemikiran yang mempengaruhi.
b) Harus Konsepsional
Secara umum istilah Konsepsional
berkaitan dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada
dalam intelektial. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan
riilnya. Sehingga maksud dari Konsepsional
tersebut sebagai upaya untuk menyusun bagan yang terkonsepsi ( jelas ). Karrena
berpikir secara Filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan proses.
c) Harus Koheren
Koheren atau runtut adalah
unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama
lain. Koheren atau runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya,
apabila suatu uraian yang di dalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian
tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren ( runtut ).
d) Harus Rasional
Yang dimaksud dengan Rasional adalah
unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran Filsafat harus
diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai
kaidah-kaidah berpikir ( logika ).
e) Harus Sinoptik
Sinoptik artinya pemikiran Filsafat
harus melihat hal-hal menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
f) Harus mengarah kepada pandangan dunia
Yang dimaksud adalah pemikiran Filsafat
sebagai upaya untuk memahami suatu Realitas kehidupan dengan jalan menyusun
suatu pandangan ( hidup ) dunia, termasuk didalamnya menerangkan tentang dunia
dan semua hal yang berada di dunia.
B.
SISTEMATIKA PEMBAGIAN FILSAFAT
1.
Masa Yunani
Yunani
terletak di Asia kecil. Kehidupan penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan
pedagang, sebab sebagian penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka
dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah. Kebiasaan mereka hidup di
alam bebas sebagai nelayan itulah yang mewarnai kepercayaan yang di anutnya,
yaitu berdasarkan kekuatan alam yang beranggapan bahwa hubungan manusia dengan
Sang Maha Pencipta bersifat Formalitas. Artinya, kedudukan Tuhan terpisah
dengan kehidupan manusia yang memberi kebebasan kepada manusia ( Natural
Religion ). Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang kepercayaannya
bersifat Rasional ( Cultural Religion ) yang menimbulkan pergeseran. Tuhan
tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan
manusia. Sistem kepercayaan Natural
Religion berubah menjadi sistem Cultural
Religion. Dalam sistem kepercayaan Natural Religion ini manusia terikat
oleh Tradisionalisme. Sedangkan dalam
sistem kepercayaan Cultural Religion ini memungkinkan mengembangkan potensi dan
budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikirannya untuk
menghadapi dan memecahkan berbagai misteri kehidupan/alam dengan pikiran.
Ahli
pikir yang pertama kali muncul adalah Thales ( 625-545 SM ) yang berhasil
mengembangkan Geometri dan Matematika, Liokippos dan Demokritos mengembangkan
teori materi Hipokrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan
Geometri deduktif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato
mengembangkan teori tentang ide, Aristoteles mengembangkan teori yang
menyangkut dunia dan benda dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (
Ilmu Biologi ). Suatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah
menemukan sistem pengaturan pemikiran ( Logika Formal ) yang sampai sekarang
masih dikenal. Para ahli pikir Yunani kuno ini mencoba membuat konsep tentang
asal mula alam walaupun sebelumnya sudah ada tentang konsep tersebut. Akan
tetapi, konsepnya bersifat mitos yaitu Mite Kosmogonis ( tentang asal usul
manusia ) dan Mite Kosmologis tentang asal usul serta sifat kejadian-kejadian
dalam alam semesta ) sehingga konsep mereka sebagai mencari Arche ( asal mula ) alam semesta. Hal itu disebutnya
sebagai Filosof Alam. Karena arah pemikiran Filsafatnya pada alam semesta,
corak pemikirannya disebut kosmosentris.
Sementara itu, para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang
hidup pada masa Yunani Klasik arah pemikirannya pada manusia, maka corak
pemikiran Filsafatnya disebut Antroposentris.
Hal ini disebabkan arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik tersebut
memasukkan manusia sebagai subjek yang harus bertanggung jawab atas segala
tindakannya.
2.
Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya
Filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan Filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh
kepercayaan, maka Filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi
oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran Filsafat abad pertengahan
didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma
agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat Teosentris. Menurut Pringgodigdo pada abad ke-6 Masehi, setelah
mendapat dukungan dari Karel Agung maka didirikanlah sekolah-sekolah yang
memberi pelajaran Gramatika, dialektika, Geometri, Aritmetika, Astronomi, dan
musik. Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemikiran Filsafat
pada abad ke-13 yang di tandai berdirinya Universitas-universitas dan
Ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka mengabdikan dirinya untuk memajukan
ilmu dan agama, seperti Anselmus ( 1033-1109 ), Abaelardus ( 1079-1143 ),
Thomas Aquinas (1225-1274 ).
Di kalangan para ahli pikir Islam (
periode Filsafat Skolastik Islam ) muncul : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina,
Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Inbu Rusyd. Peiode Skolastik Islam ini
berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berkembang dengan
pesat. Akan tetapi, setelah jatuhnya kerajaan Islam di Granada Spanyol tahun
1492 mulailah kekuatan plitik Barat menjarah ke Timur. Suatu prestasi yang
paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Filsafat. Di
sini mereka merupakan matarantai yang mentransfer Filsafat Yunani, sebagai mana
yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Islam di Timur terhadap Eropa dengan
menambah pikiran-pikiran Islam sendiri. Peralihan pada abad pertengahan ke abad
modern dalam sejarah Filsafat disebut sebagai masa peralihan, yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme, yang berlangsung pada abad 15-16. Munculnya Renaissance
dan Humanisme yang mengawali masa abad modern. Mulai zaman modern inilah
peranan Ilmu akan kodrat sangat menonjol sehingga akibatnya pemikiran Filsafat
semakin dianggap sebagai pelayan Teologi, yaitu sebagai suatu sarana untuk
menetaopkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal
manusia.
3.
Masa Abad Modern
Pada
masa abad modern ini pemikiran Filsafat berhasil menempatkan manusia pada
tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya
Antroposentrik, yaitu pemikiran Filsafatnya mendasarkan pada akal pikiran dan
pengalaman. Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Ranassance dan Humanisme
sebagai awal masa abad modern di mana para ahli ( Filosof ) menjadi pelopor
perkembangan Filsafat ( kalau pada masa abad pertengahan yang menjadi pelopor
perkembangan Filsafat adalah para pemuka Agama ). Pemikiran Filsafat pada masa
abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar secara modern. Pemikiran
Filsafat di upayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran Filsafat
diaarahkan pada upaya manusia agar dapat menguasai lingkungan alam dengan
menggunakan berbagai penemuan Ilmiah.
Karena
semakin pesatnya orang menggunakan metode Eksperimental dalam berbagai
penelitian Ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran Filsafat mulai tertinggal
oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat ( Natural Sciences ). Rene Descartes
(1596-1650) sebagai bapak bapak Filsafat modern berhasil melahirakan suatu
konsep dari perpaduan antara metode ilmu pasti kedalam pemikiran Filsafat.
Upaya ini di maksudkan agar kebenaran dan kenyataan Filsafat juga sebagai
kebenaran dan kenyataan yang jelas dan terang. Pada abad ke -18 perkembangan
pemikiran Filsafat mengarah pada Filsafat ilmu pengetahuan, dimana pemikiran
Filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara apayang di pakai untuk
mensari kebenaran dan kenyataan. Tokoh-tokohnya adalah antara lalin George
Berkeley ( 1685-1753 ), David Hume ( 1711-1776 ), dan Rousseau ( 1722-1778 ).
Di
Jerman muncul Christian Wolft ( 1679-1754 ) dan Immanuel kant ( 1724-1804 )
yang mengupayakan agar Filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti bergunan,
yaitu dengan cara membenntuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang
kuat. Abad ke-19, perkembangan pemikiran Filsafat terpecah belah. Pemikiran
Filsafat pada saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap
bengasa dengan pengetian dan caranya sendiri. Ada Filsafat Amerika, Filsafat
Francis, Filsafat Inggris, dan Filsafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah : Hegel (
1770-1831 ), Karl Marx ( 1881-1883 ), August Comte (1798-1857), JS. Mill (
1806-1873 ), dan John Dewey ( 1858-1952 ). Akhirnya, munculnya pemikiran
Filsafat yang bermacam-macam ini, berakibat tidak terdapat lagi pemikiran
Filsafat yang mendominasi.
4.
Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat
dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga di sebut filsafat kontemporer. Ciri
khas pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia karena pemikiran
Filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa
dan etika sosial.
Dalam
bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti
pertanyaan-pertanyaan. Masalah ini muncul karena realitas sekarang ini banyak
bermunculan bebagai istilah yang cara pemakaiannya sering tidak di fikirkan
secara mendalam sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beda pula. Maka timbullah
filsafat analitika, yang di dalamnya membahas tentang cara berfikir untuk
mengatur pemakaian kata0kata yang menimbulkan kerancuan, sekaligus dapat
menimbulkan bahaya-bahaya yang terdapat di dalamnya. Karena bahasa sebagai
obyek terpenting dalam pemikiran filsafat, para fikir menyebutnya sebagai logosentris.
Bidang etika sosial memuat pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat
didalam masyarakat dewasa ini.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
berasal dari bahasa yunani yaitu philosopia,
yang berarti philos adalah cinta, suka dan sophia adalah pengetahuan,
hikmah. Jadi philosophia adalah cinta pada
kebijaksanaan atau cinta pada
pengetahuan.
Filsafat adalah
“ Ilmu Istimewa” yang mencoba
menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa
karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
Filsafat adalah
hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami
secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada yaitu:
Ø Hakikat Tuhan
Ø Hakikat alam semesta
Ø Hakikat Manusia
Serta sikap manusia sebagai konsekuensi
dari paham tersebut.
Sistematika Filsafat dari zaman Yunani
sampai sekarang ini dapat di simpulkan sebagai beirkut:
1. Masa Yunani
Pada abad ke-6 SM, bermunculan para
pemikir yang kepercayaannya bersifat Rasional ( Cultural Religion ) yang
menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan
justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan Natural Religion berubah menjadi sistem Cultural Religion. Dalam sistem
kepercayaan Natural Religion ini manusia terikat oleh Tradisionalisme.
Ahli pikir yang pertama kali muncul
adalah Thales ( 625-545 SM ) yang berhasil mengembangkan Geometri dan
Matematika, Liokippos dan Demokritos mengembangkan teori materi Hipokrates
mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan Geometri deduktif, Socrates
mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang ide,
Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan benda dan berhasil
mengumpulkan data 500 jenis binatang ( Ilmu Biologi ).
2. Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya
Filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan Filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh
kepercayaan, maka Filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi
oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran Filsafat abad pertengahan
didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma
agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat Teosentris
Keadaan yang demikian akan mendorong
perkembangan pemikiran Filsafat pada abad ke-13 yang di tandai berdirinya
Universitas-universitas dan Ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka
mengabdikan dirinya untuk memajukan ilmu dan agama, seperti Anselmus (
1033-1109 ), Abaelardus ( 1079-1143 ), Thomas Aquinas (1225-1274 ).
Di kalangan para ahli pikir Islam (
periode Filsafat Skolastik Islam ) muncul : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina,
Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Inbu Rusyd. Peiode Skolastik Islam ini
berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berkembang dengan
pesat.
3. Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran
Filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan
kehidupan sehingga corak pemikirannya Antroposentrik, yaitu pemikiran
Filsafatnya mendasarkan pada akal pikiran dan pengalaman.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan
metode Eksperimental dalam berbagai penelitian Ilmiah, akibatnya perkembangan
pemikiran Filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat (
Natural Sciences ). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak bapak Filsafat
modern berhasil melahirakan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu
pasti kedalam pemikiran Filsafat.
4. Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat dewasa ini atau filsafat abad
ke-20 juga di sebut filsafat kontemporer. Ciri khas pemikiran filsafat ini
adalah desentralisasi manusia karena pemikiran Filsafat abad ke-20 ini
memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Syadali Ahmad, Mudzakir.1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia
Ø Sumarna Cecep.2010. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press
Ø Poerwantana, Ahmadi, Rosali. Filsafat Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya
[1] A.Syadali, Mudzakir, Filsafat Umum, 1997, Bandung: Pusataka
Setia, hlm 11
[2] Ibid
[3] Cecep Sumarna, Filsafat ilmu, 2010, Bandung: Mulia
Press, hlm 50
[4] Op Cit Cecep Sumarna hlm 50
[5] Ibid hlm 51
[6] Op Cit A Syadali, Mudzakir Hlm 15
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] Ibid Hlm 16
[10] Op Cit A.Syadali. Mudzakir Hlm 16
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid hlm 12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar