BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dibuatnya
Makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur sebagai bentuk tanggung jawab
dan kewajiban kami sebagai mahasiswa untuk mempresentasekan di depan kelas
kemudian daripada itu menuntut ilmu menjadi prioritas utama bagi kami untuk
selalu menambah wawasan kami sebagai caln pendidik dalam makalah ini kami
mengangkat tema yang berkaitan dengan Hakikat Pendidikan sebenarnya ma’na
hakikat pendidikan itu tidaklah berbuntu pada tembok sekolah saja lebih luas
lagi kehidupan adalah pendidikan itu sendiri kehidupan adalah suatu kehidupan
yang maha luas segala sesuatu yang kita temukan adalah pendidikan namun dalam
kehidupannya manusia membuat garis agar pendidikan itu berjalan sistematis dan
memenuhi harapan supaya terwujud tujuan pendidikan yang sudah di tentukan.
Dari
latar belakang diatas kami mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa sebenarnya Hakikat pendidikan itu?
2. Apa yang di maksud dengan mendidik?
3.
Adapun
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas itu menjadi tujuan pembahasan masalah
yang akan kami angkat didalam makalah ini:
1. Dapat mengetahui hakikat pendidikan itu.
2. Untukmemahami pengertian mendidik.
3. Untuk memahami tujuan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pendidikan
Ketika kita mencari suatu haikat
maka kita mulai mengalami sebuah makna dari sesuatu hal tersebut. Mencari
hakikat pendidikan adalah menelusuri manusia itu sendiri sebagai bagian
pendidikan. Manusia merupakan makhluk yang bergelut secara intens dengan
pendidikan. Itulah sebabnya manusia dijuluki sebagai animal educandum dan
animal educandus secara sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang di didik
dan makhluk yang mendidik, dengan kata lain,manusia adalah makhluk yang
senantiasa terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap
dirinya sendiri. Dalam arti inilah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahun, dan
Kebudayaan PBB (Unesco) sebagai badan internasional yang bergumul dengan
berbagai masalah pendidikan dan kebudayaan mencanangkan konse, “Pendidikan
sepanjang hayat” (life long education) yang berlangsung sejak dibuaian
hingga ke liang lahat (From the cradle to the grave).
Pendidikan
sebagai upaya manusia merupakan aspek dan hasil budaya terbaik yanng mampu di
sediakan setiap generasi manusia untuk kepentingan generasi muda agar
melanjutkan kehidupan dan cara hidup mereka dalam konteks sosio budaya. Oleh
karena itu, setiap masyarakat pluralistik di zaman modern senantiasa menyiapkan
warganya yang terpilih sebagai pendidik bagi kepentingan kelanjutan
(regenerasi) dari masing – masing masyarakat yang bersangkutan. Pada sisi
itulah di perlukan pendidikan, yang melampaui tata aturan di dalam keluarga
untuk meningkatkan harkat dan kepribadian individu agar menjadi manusia yang
lebih cerdas.
Berdasarkan pemahaan di atas maka
dapat di katakan bahwa permasalan pendidikan merupakan proses yang kompleks
karena membutuhkan jalinan pemikiran teoretis sebagai dasar pijak dalam
pengambilan keputusan kependidikan serta pemahaman beragam gejala yang faktual
dan aktual yang melibatkan pembicaraan berbagai unsur yang terkait langsung di
dalam proses pendidikan.
Untuk memahami pendidikan, ada dua
istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan, yakni kata paedagogie
dan paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan apabila pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik adalah
ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak
atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan.
Secara etimologik, perkataan paedagogik
berasal dari bahasa yunani, yaitu paedagogia yang berarti pergaulan
dengan anak.
Paedagogos ialah seorang
pelayan atau bujang pada zaman yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan
menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga di rumahnya, anak-anak tersebut
selalu dalam pengawasan dan penjagaan dari para paedagogos itu. Jadi,
nyatalah bahwa pendidikan anak-anak Yunani Kuno sebagian besar diserahkan
kepada paedagogos itu. Paedagogos berasal dari kata paedos
(anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Perkataan paedagogos
yang mulanya berarti “rendah” (pelayan, bujang), sekarang di pakai untuk
pekerjaan yang mulia. Paedagoog (pendidik atau ahli didik) ialah seorang
yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri.
Dalam realitas di dunia pendidikan
pedagogi modern membagi fungsi pembelajaran menjadi tiga area, yakni apa yang
di maksudkan sebagai Taksonomi Bloom. Menurut Taksonomi Bloom, pengajaran
terbagi atas:
1. Bidang kognitif, yakni yang berkenaan
dengan aktivitas mental, seperti ingatan pemahaman, penerapan, analisis,
evaluasi, dan pencipta
2. Bidang afektif, yakni berkenaan dengan
sikap dan rahasia diri
3. Bidang psikomotor yang berkenaan dengan
aktivitas fisik seperti ketrampilan hidup dan pertukangan
Ketiga area tersebut
kelihatannya memiliki sifat yang berbeda, tetapi dalam situasi pembelajaran
semua jadi satu. Contohnya, apabila seorang guru ingin mengajar seorang pelajar
menulis, dia perlu mengajar pelajar itu cara memegang pensil (bidang
psikomotor), bentuk huruf dan maknanya (bidang kognitif), dan jug harus memupuk
minat untuk belajar menulis (bidang efektif). Dengan demikian, hakikat
pendidikan adalah “handayani” seperti yang di kemukakan oleh Ki Mohamad Said R.
Yang memiliki arti “memberi pengaruh”. Pendidikan kumpulan dari semua proses yang
memungkinkan seseorang mampu mengembangkan seluruh kemampuan (potensi) yang
dimilikinya, sikap-sikap dan bentuk-bentuk prilaku yang bernilai positif di
masyarakat tempat individu yang bersangkutan berada.
Melihat pendidikan dan prosesnya kepada manusia.
Sebetulnya pendidikan itu sendiri adalah sebagai suatu proses kemanusiaan dan
pemanusiaan. Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia,
berprilaku selayaknya prilaku normal manusia. Atau bertindak dalam logika
berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses
menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanusiaan menjadi manusia dewasa.
Manusia
dalam makna seutuhnya. Artinya dia menjadi ril manusia yang mampu menjalankan
tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia. Tugas pokok dan fungsi
tersebut adalah mandataris Tuhan (khalifatullah fil al-Ardhi). Sedangkan
menurut Freire hakekat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa
pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi
oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan
ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana
teknologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal
dari latar belakang apapun. Namun sebagai praksi sosial. Pendidikan berupaya
memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari
penindasan yang mencekik mereka.
Berdasarkan penjelasan di atas kami
sebagai penyusun sedikit memberikan definisi yang di maksud dengan pendidikan
ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan pengendalian diri kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya dan
masyarakat.
B. Mendidik
Kata mendidik adalah kata kunci dari
pendidikan mengingat hal itu sangat penting untuk memahami hakikat mendidik
yang bermakna luhur dalam proses pendidikan.
Mendidik menurut Langeveld adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam
usahanya mencapai kedewasaan. Ahli lainnya, yaitu Hoogveld menngatakan mendidik
membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan
tugas hidupnya. Menurut tokoh pendidikan yang tidak asing lagi bagi bangsa
Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara mengatakan, mendididk adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka
sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kebanyakan orang masih menganggap enteng dan mudah terhadap hal mendidik
itu, kebanyakan orang tua mendidik anaknya itu hanya berdasarkan
pengalaman-pengalaman praktis saja. Mereka banyak meniru perbuatan nenek moyangnya yang belum tentu benar
dan baik. Mereka beranggapan bahwa kepandaian mendidik itu sudah dengan
sendirinya akan di punyai oleh setiap orang dari pergaulanya dengan anak-anak.
Mereka percaya bahwa dalam setiap situasi,”intuitif” akan mendapat sikap dan
tindakan yang tepat. Jadi, mereka berkehendak secara
“intuitif” belaka, tidak atau kurang mau mempelajari dan menyelidiki hal
mendidik secara ilmu pengetahuan, dan secara
teoritis.
Dalam hal ini bukan berarti bahwa kami tidak menghargai
pengalaman-pengalaman dalam praktik dan mementingkan teori belaka. Menurut
pendapat kami, mendidik berdasarkan hasil-hasil penyelidikan (teori) dan
berdasarkan pengalaman-pengalaman (praktik) lebih banyak dan baik hasilnya
daripada hanya berdasarkan pengalaman dan intuisi belaka.
Berdasarkan pemikiran di atas, ada beberapa ahli yang mengumpamakan
pekerjaan mendidik itu sama halnya dengan pekerjaan tukang kebun yang
memelihara tanam-tanamannya. Tanaman itu tumbuh sendiri, ada yang kurus, ada
yang subur, ada yang lekas tinggi dan ada yang berbuah, tetapi ada pula yang
pendek, tidak berbuah, bahkan adapula yang tidak tumbuh atau mati. Tanaman itu
tumbuh dengan sendirinya oleh kekuatan dari dalam dan kecepatan tumbuhnya pun
berbeda-beda pada setiap tanaman. Demikian pula dengan seorang pendidik
terhadap anak didiknya. Ia berusaha membimbing atau memimpin pertumbuhan anak,
jasmani maupun rohaninya. Sama halnya si tukang kebun, ia pun tidak memaksa
pertumbuhan anak sekehendaknya. Ia tidak dapat membuat anak agar naik kelas
berjalan atau berkta-kata jika memang belum waktunya. Demikian pula, ia tidak
mencetak anak itu untuk jadi dokter, insinyur, ahli negara, atau hal-hal yang
memungkinkan tercapainya tujuan itu.
Pendidik hanya dapat memimpin perkembangan anak itu dengan
mempengaruhinya dari luar, seperti dengan memberi makan yang cukup sehat, memberi pakaian, menjaga supaya anak terhindar dari penyakit,
menyediakan alat-alat dan memberi kesempatan untuk bermain, menasehati, melarang,
menghukum, menyekolahkan, dan kalau perlu memindahkan anak itu kedalam
lingkungan yang lebih menguntungkan.
Menurut uraian di atas, perumpamaan pendidikan sebagai tukang kebun,
kita harus berhati-hati. Kita tidak dapat menyamakan begitu saja pekerjaan
seorang pendidik dengan pekerjaan tukang kebun. Jika perkembangan anak dapat
ditentukan hanya dengan hukum-hukum biologis yang sudah tetap, seperti diuraikan
di atas, maka lapangan pekerjaan kita, para paedagoog, akan sangat
terbatas. Pendidik hendaknya berusaha agar anak itu menjadi manusia yang lebih
mulia. Anak atau manusia itu adalah makhluk yang berpribadi dan berkesusilaan.
Ia dapat dan sanggup hidup menurut norma-norma kesusilaan, ia dapat memilih dan
menentukan apa-apa yang akan dilakukan, juga menghindari atau menolak segala
yang tidak di sukainya. Seorang tukang kebun yang menyebarkan atau menananm
biji, tidak akan khawatir bahwa tanaman yang satu akan agresif dan yang lain
akan baik hati, yang ini akan lenngah dan tidak menurut, sedangkan yang itu
akan sungguh-sungguh patuh, dan sebagainya. Sebaliknya juga pada anak sama,
akan terlihat pula perbedaan wataknya.
Mengapa mendidik itu dikatakan memimpin perkembangan anak, dan bukan
membentuk anak? Memang, kata “memimpin” disini tepat. Anak bukanlah
seumpama segumpal tanah liat yang dapat diremas-remas dan di bentuk dijadikan
sesuatu menurut kehendak si pendidik. Jika sekiranya betul demikian, sudah
tentu kita dapat mengharapkan bahwa nanti manusia itu akan menjadi “baik” semua.
Sebab menurut kenyataan hampir semua manusia diusahakan di didik, baik oleh orang
tuanya maupun oleh masyarakat dan Negara. Sehingga akhirnya mungkin pemerintah
atau Negara tidak perlu lagi mengadakan polisi dan penjara.
Sehubungan dengan memahami makna mendidik maka para ilmu pengetahuan dan
pendidikan merumuskannya ke dalam beberapa aliran dalam mendidik yaitu:
a.
Empirisme
Aliran Empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulasi eksternal
dalam perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa anak tergantung pada
lingkungan, sedangkan pembawaan yang di bawanya dari semenjak lahir tidak di pentingkan. Pengalaman yang
di peroleh dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia sekitarnya. Pengalamna-pengalaman itu berupa
pengalaman-pengalaman stimulant-stimulan dari alam bebas maupun diciptakan oleh
orang dewasa dalam bentuk program pendidikan
Tokoh utama aliran ini adalah filsuf inggris bernama john lock yang
mengembangkan paham rasionalisme pada abad ke-18. Teori ini mengatakan bahwa
anak yang lahir ke dunia dapat di umpamakan seperti kertas putih yang kosong
yang belum di tulis atau di kenal dengan istilah “tabularasa”. Teori ini
mengatakan bahwa anak yang lahir itu suci seperti lilin.
b.
Nativisme
Paha mini menentang paham empirisme yang dikemukakan John Lock. Memiliki
arti lahir. Menurut paham ini, dengan tokohnya seorang filsuf jerman Schopenhauer
(1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki
pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing.
Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Oleh karena itu,
menurut paham ini perkembangan anak tergantung dari pembawaannya sejak lahir.
Berdasarkan aliran ini, keberhasilan pendidikan anak di tentukan oleh anak itu
sendiri.
Aliran ini pun
berkeyakinan bahwa manusia yang jahat itu akan menjadi jahat dan sebaliknya,
yang baik akan menjadi baik. Pendidikan yang tidak sesuai bakat dan pembawaan
anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Singkatnya
aliran nativisme menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor
lingkungan, termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap pendidikan
anak. Yang paling berpengaruh menuru aliran ini adalah pembawaan, pendidikan
tidak akan berdaya mempengaruhi perkembangan anak karena setiap anak telah
memiliki pembawaannya sejak di lahirkan.
Jadi jelas di sini,
bahwa menurut teori ini akan tumbuh dan berkembangnya tidak di pengaruhi oleh
lingkungan pendidikan baik lingkungan sekitar yang ada sehari-hari maupun
lingkungan yang di rekayasa oleh orang dewasa yang di sebut pendidikan dengan
kata lain, pendidikan, lingkungan masyarakat, dan orang tua tidak berpengaruh
terhadap perkembangan anak karena setiap anak akan berkembang sesuai
pembawaannya, bukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar.
c. Konvergensi
Konvergensi
artinya titik pertemuan. Pelopor aliran Konvergensi adalah william stern
(1871-1939), seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan jerman. Ia mengatakan bahwa
seorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga dengan pembawaan buruk. Ia pun
mengakui bahwa proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor
lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Aliran ini
menyampaikan bahwa bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang
dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuai dengan perkembangan bakat itu.
Sebaliknya, lingkungan yang baik pun sulit mengembangkan potensi anak secara
optimal apabila tidak terdapat bakat yang tidak di perlukan bagi perkembangan
yang di harapkan anak tersebut. Dengan demikian, paham ini menggabungkan antara
pembawaan sejak lahir dan lingkungan yang menyebabkan anak mendapatkan
pengalaman.
William Stern menjelaskan
pemahamannya tentang pentingnya pembawaan dan lingkungan itu dengan perumpamaan
dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Oleh karena itu, teorinya di kenal
dengan sebutan Konvergensi (konvergen berarti memusat ke satu titik).
C. Tujuan Pendidkan
Secara bahasa tujuan adalah arah haluan, jurusan dan
maksud. suata contoh adalah ketika orangtua menyekolahkan anaknya agar menjadi
cerdas dan berakhlaq, maka tujuan orangtua itu menyekolahkan anaknya ke sekolah
adalah untuk hal tersebut. Pembahasan
tujuan pendidikan merupakan suatu yang penting, mengingat perjalanan
setiap intituisi yang memiliki visi yang jelas selalu dimulai dari tujuan (tart
from the end).
Demikian pula pendidikan yang kini menjadi harapn
mengarahkan pada kehidupan yang lebih baik hendaknya selalu berangkat dari
tujuan yang akan di capai. Apabila tujuan yang akan dicapai sudah jelas, maka
langkah selanjutnya dapat di teruskan dengan memikirkan perangkat – perangkat
lain yang mendukung terncapai nya tujuan secara efektif dan efiien
Dalam skala yang lebih besar pendidikan di atur oleh
pemerintah baik sistem maupun manajemennya. Di indonesia berdasarkan undang –
undang pendidkan dan pengajaran nomor 2
tahun 1989 disebutkan bahwa pendidkan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan
kebangsaan
Masih berkaitan dengan tujuan pendidkan yang tercantup
dalam UU nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3 dan pasal 4 yang berbunyi
sebagai berikut :
§
Pasal 3 : Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk
manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokrasi serta bertanggung
jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air
§
Pasal 4 : Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas asas – asas yang termaqtub dalam Pancasila ” Undangan – Undangan Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indoneia
Berdasarkan tujuan pendidikan di atas penyusun berpendapat apabila suatu proses pendidikan itu berjalan dengan arahan yang sudah di tentukan maka akan terwujudlah suatu tujuan pendidikan yang mulia untuk meningkatkan harkat dan
derajat manusia itu sendiri
Namun manakala tujuan pendidkikan dan pengajaran yang
tertulis dalam UUD negara kita itu tidak
dijalankan benar –benar dengan norma
yang ditentukan. Maka tidak mungkin
tidak tujuan pendidikan itu hanyalah berupa tulisaan belaka.
Pada kaitannya tujuan umum dari pendidikan iyalah membawa anak dalam keadaannya yang berarti ia harus dapat menentukan dirinya sendiri dan bertanggung jawab sendiri. Anak harus di didik menjadi orang yang sanggup mengenal dan berbuat menurut kesusilaan. Orang dewasa adalah orang yang sudah mengetahui dan memiliki nilai – nilai hidup, norma –
norma kesusilaan,
keindahan, keagamaan, kebenaran, dan sebagainya dan hidup sesuai dengan nilai – nilai dan norma itu
Untuk yang pasti dan harus kita ingat ialah si pendidik
haru sudah memliki dan menentukan tujuan hidupnya itu sendiri. Tujuan Pendidikan berhubungan erat dengan tujuan
dan pandangan hidup si pendididk sendiri, nyatalah bahwa untuk mendidik
itu di perlukan suatu syarat yang muntlak : si pendidik sendiri harus sudah memilki kesadaran yang tinggi dalam norma – norma tertentu, sehingga ia dapat disebut orang yang berkepribadian. segala yang diperbuatnya terhadap anak, dalam keadaan yang
demikian oleh pendidik, baru dapat dikatakan mempunyai tujuan sendiri yang tegas di dalam hidupnya. seorang pendidik tidak akan tahu ke mana akan dibawanya jika tidak mengetahui jalan hidupnya. Ingatlah kata
– kata terkenal dalam paedagogik
Pendidikan tidak dapat memberikan sesuatu kepada anak didiknya, kecuali hanya apa yang ada
padanya.”
sebagai contoh seorang ayah yang ateis, umpamanya tidak mungkin mendidik anaknya agar berbakti dan taat kepada perintah –
perintah Tuhan. seorang guru yang miskin perasaan sosialnya, tidak akan mampu memasukkan perasaan soial yang sebenarnya kepada anak didiknya. Dan contoh lainnya seorang ibu yang berperasaan lemah lembut dan kaih sayang, tentu akan lebih mudah mendidik anak – anaknya
menjadi orang yang berperaan halus dan cinta sesama manusia daripada seorang ibu yang kasar dan keras tingkah lakunya.
DAFTARPUSTAKA
Dr. M. Sukarjo. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, PT
Raja grafindo.Jakarta : 2009
Ahmadi Abu, Sosiologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta : 2007
Drs. M. Ngalim Purwanto. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung : 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar