Jumat, 26 Oktober 2012

Sosiologi Pendidikan 2


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dibuatnya Makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur sebagai bentuk tanggung jawab dan kewajiban kami sebagai mahasiswa untuk mempresentasekan di depan kelas kemudian daripada itu menuntut ilmu menjadi prioritas utama bagi kami untuk selalu menambah wawasan kami sebagai caln pendidik dalam makalah ini kami mengangkat tema yang berkaitan dengan Hakikat Pendidikan sebenarnya ma’na hakikat pendidikan itu tidaklah berbuntu pada tembok sekolah saja lebih luas lagi kehidupan adalah pendidikan itu sendiri kehidupan adalah suatu kehidupan yang maha luas segala sesuatu yang kita temukan adalah pendidikan namun dalam kehidupannya manusia membuat garis agar pendidikan itu berjalan sistematis dan memenuhi harapan supaya terwujud tujuan pendidikan yang sudah di tentukan.
Dari latar belakang diatas kami mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa sebenarnya Hakikat pendidikan itu?
2.      Apa yang di maksud dengan mendidik?
3.       
Adapun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas itu menjadi tujuan pembahasan masalah yang akan kami angkat didalam makalah ini:
1.      Dapat mengetahui hakikat pendidikan itu.
2.      Untukmemahami pengertian mendidik.
3.      Untuk memahami tujuan pendidikan.







BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Pendidikan
            Ketika kita mencari suatu haikat maka kita mulai mengalami sebuah makna dari sesuatu hal tersebut. Mencari hakikat pendidikan adalah menelusuri manusia itu sendiri sebagai bagian pendidikan. Manusia merupakan makhluk yang bergelut secara intens dengan pendidikan. Itulah sebabnya manusia dijuluki sebagai animal educandum dan animal educandus secara sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang di didik dan makhluk yang mendidik, dengan kata lain,manusia adalah makhluk yang senantiasa terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap dirinya sendiri. Dalam arti inilah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahun, dan Kebudayaan PBB (Unesco) sebagai badan internasional yang bergumul dengan berbagai masalah pendidikan dan kebudayaan mencanangkan konse, “Pendidikan sepanjang hayat” (life long education) yang berlangsung sejak dibuaian hingga ke liang lahat (From the cradle to the grave).
            Pendidikan sebagai upaya manusia merupakan aspek dan hasil budaya terbaik yanng mampu di sediakan setiap generasi manusia untuk kepentingan generasi muda agar melanjutkan kehidupan dan cara hidup mereka dalam konteks sosio budaya. Oleh karena itu, setiap masyarakat pluralistik di zaman modern senantiasa menyiapkan warganya yang terpilih sebagai pendidik bagi kepentingan kelanjutan (regenerasi) dari masing – masing masyarakat yang bersangkutan. Pada sisi itulah di perlukan pendidikan, yang melampaui tata aturan di dalam keluarga untuk meningkatkan harkat dan kepribadian individu agar menjadi manusia yang lebih cerdas.
            Berdasarkan pemahaan di atas maka dapat di katakan bahwa permasalan pendidikan merupakan proses yang kompleks karena membutuhkan jalinan pemikiran teoretis sebagai dasar pijak dalam pengambilan keputusan kependidikan serta pemahaman beragam gejala yang faktual dan aktual yang melibatkan pembicaraan berbagai unsur yang terkait langsung di dalam proses pendidikan.
            Untuk memahami pendidikan, ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan, yakni kata paedagogie dan paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik adalah ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan.
            Secara etimologik, perkataan paedagogik berasal dari bahasa yunani, yaitu paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak.
            Paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang pada zaman yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga di rumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan dan penjagaan dari para paedagogos itu. Jadi, nyatalah bahwa pendidikan anak-anak Yunani Kuno sebagian besar diserahkan kepada paedagogos itu. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Perkataan paedagogos yang mulanya berarti “rendah” (pelayan, bujang), sekarang di pakai untuk pekerjaan yang mulia. Paedagoog (pendidik atau ahli didik) ialah seorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri.
            Dalam realitas di dunia pendidikan pedagogi modern membagi fungsi pembelajaran menjadi tiga area, yakni apa yang di maksudkan sebagai Taksonomi Bloom. Menurut Taksonomi Bloom, pengajaran terbagi atas:
1.      Bidang kognitif, yakni yang berkenaan dengan aktivitas mental, seperti ingatan pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan pencipta
2.      Bidang afektif, yakni berkenaan dengan sikap dan rahasia diri
3.      Bidang psikomotor yang berkenaan dengan aktivitas fisik seperti ketrampilan hidup dan pertukangan
Ketiga area tersebut kelihatannya memiliki sifat yang berbeda, tetapi dalam situasi pembelajaran semua jadi satu. Contohnya, apabila seorang guru ingin mengajar seorang pelajar menulis, dia perlu mengajar pelajar itu cara memegang pensil (bidang psikomotor), bentuk huruf dan maknanya (bidang kognitif), dan jug harus memupuk minat untuk belajar menulis (bidang efektif). Dengan demikian, hakikat pendidikan adalah “handayani” seperti yang di kemukakan oleh Ki Mohamad Said R. Yang memiliki arti “memberi pengaruh”. Pendidikan kumpulan dari semua proses yang memungkinkan seseorang mampu mengembangkan seluruh kemampuan (potensi) yang dimilikinya, sikap-sikap dan bentuk-bentuk prilaku yang bernilai positif di masyarakat tempat individu yang bersangkutan berada.
            Melihat pendidikan dan prosesnya kepada manusia. Sebetulnya pendidikan itu sendiri adalah sebagai suatu proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berprilaku selayaknya prilaku normal manusia. Atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanusiaan menjadi manusia dewasa.
Manusia dalam makna seutuhnya. Artinya dia menjadi ril manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia. Tugas pokok dan fungsi tersebut adalah mandataris Tuhan (khalifatullah fil al-Ardhi). Sedangkan menurut Freire hakekat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana teknologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai praksi sosial. Pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka.
            Berdasarkan penjelasan di atas kami sebagai penyusun sedikit memberikan definisi yang di maksud dengan pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya dan masyarakat.

B. Mendidik
            Kata mendidik adalah kata kunci dari pendidikan mengingat hal itu sangat penting untuk memahami hakikat mendidik yang bermakna luhur dalam proses pendidikan.
Mendidik menurut Langeveld adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam usahanya mencapai kedewasaan. Ahli lainnya, yaitu Hoogveld menngatakan mendidik membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya. Menurut tokoh pendidikan yang tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara mengatakan, mendididk adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kebanyakan orang masih menganggap enteng dan mudah terhadap hal mendidik itu, kebanyakan orang tua mendidik anaknya itu hanya berdasarkan pengalaman-pengalaman praktis saja. Mereka banyak meniru perbuatan nenek moyangnya yang belum tentu benar dan baik. Mereka beranggapan bahwa kepandaian mendidik itu sudah dengan sendirinya akan di punyai oleh setiap orang dari pergaulanya dengan anak-anak. Mereka percaya bahwa dalam setiap situasi,”intuitif” akan mendapat sikap dan tindakan yang tepat. Jadi, mereka berkehendak  secara “intuitif” belaka, tidak atau kurang mau mempelajari dan menyelidiki hal mendidik secara ilmu pengetahuan, dan  secara teoritis.
Dalam hal ini bukan berarti bahwa kami tidak menghargai pengalaman-pengalaman dalam praktik dan mementingkan teori belaka. Menurut pendapat kami, mendidik berdasarkan hasil-hasil penyelidikan (teori) dan berdasarkan pengalaman-pengalaman (praktik) lebih banyak dan baik hasilnya daripada hanya berdasarkan pengalaman dan intuisi belaka.
Berdasarkan pemikiran di atas, ada beberapa ahli yang mengumpamakan pekerjaan mendidik itu sama halnya dengan pekerjaan tukang kebun yang memelihara tanam-tanamannya. Tanaman itu tumbuh sendiri, ada yang kurus, ada yang subur, ada yang lekas tinggi dan ada yang berbuah, tetapi ada pula yang pendek, tidak berbuah, bahkan adapula yang tidak tumbuh atau mati. Tanaman itu tumbuh dengan sendirinya oleh kekuatan dari dalam dan kecepatan tumbuhnya pun berbeda-beda pada setiap tanaman. Demikian pula dengan seorang pendidik terhadap anak didiknya. Ia berusaha membimbing atau memimpin pertumbuhan anak, jasmani maupun rohaninya. Sama halnya si tukang kebun, ia pun tidak memaksa pertumbuhan anak sekehendaknya. Ia tidak dapat membuat anak agar naik kelas berjalan atau berkta-kata jika memang belum waktunya. Demikian pula, ia tidak mencetak anak itu untuk jadi dokter, insinyur, ahli negara, atau hal-hal yang memungkinkan tercapainya tujuan itu.
Pendidik hanya dapat memimpin perkembangan anak itu dengan mempengaruhinya dari luar, seperti dengan memberi makan yang cukup sehat, memberi pakaian, menjaga supaya anak terhindar dari penyakit, menyediakan alat-alat dan memberi kesempatan untuk bermain, menasehati, melarang, menghukum, menyekolahkan, dan kalau perlu memindahkan anak itu kedalam lingkungan yang lebih menguntungkan.
Menurut uraian di atas, perumpamaan pendidikan sebagai tukang kebun, kita harus berhati-hati. Kita tidak dapat menyamakan begitu saja pekerjaan seorang pendidik dengan pekerjaan tukang kebun. Jika perkembangan anak dapat ditentukan hanya dengan hukum-hukum biologis yang sudah tetap, seperti diuraikan di atas, maka lapangan pekerjaan kita, para paedagoog, akan sangat terbatas. Pendidik hendaknya berusaha agar anak itu menjadi manusia yang lebih mulia. Anak atau manusia itu adalah makhluk yang berpribadi dan berkesusilaan. Ia dapat dan sanggup hidup menurut norma-norma kesusilaan, ia dapat memilih dan menentukan apa-apa yang akan dilakukan, juga menghindari atau menolak segala yang tidak di sukainya. Seorang tukang kebun yang menyebarkan atau menananm biji, tidak akan khawatir bahwa tanaman yang satu akan agresif dan yang lain akan baik hati, yang ini akan lenngah dan tidak menurut, sedangkan yang itu akan sungguh-sungguh patuh, dan sebagainya. Sebaliknya juga pada anak sama, akan terlihat pula perbedaan wataknya.
Mengapa mendidik itu dikatakan memimpin perkembangan anak, dan bukan membentuk anak? Memang, kata “memimpin” disini tepat. Anak bukanlah seumpama segumpal tanah liat yang dapat diremas-remas dan di bentuk dijadikan sesuatu menurut kehendak si pendidik. Jika sekiranya betul demikian, sudah tentu kita dapat mengharapkan bahwa nanti manusia itu akan menjadi “baik” semua. Sebab menurut kenyataan hampir semua manusia diusahakan di didik, baik oleh orang tuanya maupun oleh masyarakat dan Negara. Sehingga akhirnya mungkin pemerintah atau Negara tidak perlu lagi mengadakan polisi dan penjara.
Sehubungan dengan memahami makna mendidik maka para ilmu pengetahuan dan pendidikan merumuskannya ke dalam beberapa aliran dalam mendidik yaitu:
a.         Empirisme
Aliran Empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan yang di bawanya dari semenjak lahir tidak di pentingkan. Pengalaman yang di peroleh dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia  sekitarnya. Pengalamna-pengalaman itu berupa pengalaman-pengalaman stimulant-stimulan dari alam bebas maupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan
Tokoh utama aliran ini adalah filsuf inggris bernama john lock yang mengembangkan paham rasionalisme pada abad ke-18. Teori ini mengatakan bahwa anak yang lahir ke dunia dapat di umpamakan seperti kertas putih yang kosong yang belum di tulis atau di kenal dengan istilah “tabularasa”. Teori ini mengatakan bahwa anak yang lahir itu suci seperti lilin.
b.      Nativisme
Paha mini menentang paham empirisme yang dikemukakan John Lock. Memiliki arti lahir. Menurut paham ini, dengan tokohnya seorang filsuf jerman Schopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Oleh karena itu, menurut paham ini perkembangan anak tergantung dari pembawaannya sejak lahir. Berdasarkan aliran ini, keberhasilan pendidikan anak di tentukan oleh anak itu sendiri.
Aliran ini pun berkeyakinan bahwa manusia yang jahat itu akan menjadi jahat dan sebaliknya, yang baik akan menjadi baik. Pendidikan yang tidak sesuai bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Singkatnya aliran nativisme menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap pendidikan anak. Yang paling berpengaruh menuru aliran ini adalah pembawaan, pendidikan tidak akan berdaya mempengaruhi perkembangan anak karena setiap anak telah memiliki pembawaannya sejak di lahirkan.
Jadi jelas di sini, bahwa menurut teori ini akan tumbuh dan berkembangnya tidak di pengaruhi oleh lingkungan pendidikan baik lingkungan sekitar yang ada sehari-hari maupun lingkungan yang di rekayasa oleh orang dewasa yang di sebut pendidikan dengan kata lain, pendidikan, lingkungan masyarakat, dan orang tua tidak berpengaruh terhadap perkembangan anak karena setiap anak akan berkembang sesuai pembawaannya, bukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar.
c.       Konvergensi
Konvergensi artinya titik pertemuan. Pelopor aliran Konvergensi adalah william stern (1871-1939), seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan jerman. Ia mengatakan bahwa seorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga dengan pembawaan buruk. Ia pun mengakui bahwa proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Aliran ini menyampaikan bahwa bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuai dengan perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik pun sulit mengembangkan potensi anak secara optimal apabila tidak terdapat bakat yang tidak di perlukan bagi perkembangan yang di harapkan anak tersebut. Dengan demikian, paham ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungan yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman.
                   William Stern menjelaskan pemahamannya tentang pentingnya pembawaan dan lingkungan itu dengan perumpamaan dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Oleh karena itu, teorinya di kenal dengan sebutan Konvergensi (konvergen berarti memusat ke satu titik).       







C. Tujuan Pendidkan

Secara bahasa tujuan adalah arah haluan, jurusan dan maksud. suata contoh adalah ketika orangtua menyekolahkan anaknya agar menjadi cerdas dan berakhlaq, maka tujuan orangtua itu menyekolahkan anaknya ke sekolah adalah untuk hal tersebut. Pembahasan  tujuan pendidikan merupakan suatu yang penting, mengingat perjalanan setiap intituisi yang memiliki visi yang jelas selalu dimulai dari tujuan (tart from the end).
Demikian pula pendidikan yang kini menjadi harapn mengarahkan pada kehidupan yang lebih baik hendaknya selalu berangkat dari tujuan yang akan di capai. Apabila tujuan yang akan dicapai sudah jelas, maka langkah selanjutnya dapat di teruskan dengan memikirkan perangkat – perangkat lain yang mendukung terncapai nya tujuan secara efektif dan efiien
Dalam skala yang lebih besar pendidikan di atur oleh pemerintah baik sistem maupun manajemennya. Di indonesia berdasarkan undang – undang pendidkan dan pengajaran  nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa pendidkan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan
Masih berkaitan dengan tujuan pendidkan yang tercantup dalam UU nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3 dan pasal 4 yang berbunyi sebagai berikut :
§  Pasal 3 : Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air
§  Pasal 4 : Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas asas – asas yang termaqtub dalam Pancasila ” Undangan – Undangan Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indoneia
Berdasarkan tujuan pendidikan di atas  penyusun berpendapat apabila suatu proses pendidikan itu berjalan dengan arahan yang sudah di tentukan maka akan terwujudlah suatu tujuan pendidikan yang mulia untuk meningkatkan harkat dan derajat manusia itu sendiri
Namun manakala tujuan pendidkikan dan pengajaran yang tertulis  dalam UUD negara kita itu tidak dijalankan benar –benar dengan  norma yang ditentukan. Maka tidak mungkin tidak tujuan pendidikan itu hanyalah berupa tulisaan belaka.
Pada kaitannya tujuan umum dari pendidikan iyalah membawa  anak dalam keadaannya yang berarti ia harus dapat menentukan dirinya sendiri dan bertanggung jawab sendiri. Anak harus di didik menjadi orang yang sanggup mengenal dan berbuat menurut kesusilaan. Orang dewasa adalah orang yang sudah mengetahui dan memiliki nilai – nilai hidup, norma – norma kesusilaan, keindahan, keagamaan, kebenaran, dan sebagainya dan hidup sesuai dengan nilai – nilai dan norma itu
Untuk yang pasti dan harus  kita ingat ialah si  pendidik haru  sudah memliki dan menentukan tujuan hidupnya itu sendiri. Tujuan Pendidikan berhubungan erat dengan tujuan dan pandangan hidup si pendididk sendiri, nyatalah bahwa  untuk mendidik itu di perlukan suatu syarat yang muntlak : si  pendidik sendiri harus  sudah memilki kesadaran yang tinggi dalam norma – norma tertentu, sehingga ia dapat disebut orang yang berkepribadian. segala yang diperbuatnya terhadap anak, dalam keadaan yang demikian oleh pendidik, baru dapat dikatakan mempunyai tujuan sendiri yang tegas di dalam hidupnya. seorang pendidik tidak akan tahu ke mana akan dibawanya jika tidak mengetahui jalan hidupnya. Ingatlah kata – kata terkenal dalam paedagogik
Pendidikan tidak dapat memberikan sesuatu kepada anak didiknya, kecuali hanya apa yang ada padanya.” 
sebagai contoh  seorang ayah yang ateis, umpamanya tidak mungkin mendidik anaknya agar berbakti dan taat kepada perintah – perintah Tuhan. seorang guru yang miskin perasaan sosialnya, tidak akan mampu memasukkan perasaan soial yang sebenarnya kepada anak didiknya. Dan contoh lainnya seorang ibu yang berperasaan lemah lembut dan kaih sayang, tentu akan lebih mudah mendidik anak – anaknya menjadi orang yang berperaan halus  dan cinta sesama manusia daripada seorang ibu yang kasar dan keras tingkah lakunya.  





































DAFTARPUSTAKA

     Dr. M. Sukarjo. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, PT Raja grafindo.Jakarta : 2009
     Ahmadi Abu, Sosiologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta : 2007
     Drs. M. Ngalim Purwanto. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung : 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar