Jumat, 26 Oktober 2012


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
Manusia adalah makhluk sosial. Jadi tidak dapat dihindari komunikasi atau hubungan antar sesama. Dengan kejadian seperti ini, ukhuwah dengan sendirinya akan terbentuk. Dalam Islam dikenal bermacam-macam ukhuwah yang pada intinya adalah persaudaraan antarsesama muslim maupun non muslim. Untuk menciptakan ukhuwah yang baik, perlu adanya silaturahmi kepada sesama. Dengan bersilaturahmi akan mendatangkan keakraban dan kasih mengasihi antar sesama, khususnya silaturahmi kepada sanak famili. Dalam hal ini yang dapat memutuskan tali persaudaraan adalah kurangnya rasa peduli kita, memang manusia mempunyai sifat yang egois yang dapat menimbulkan permusuhan. Hal ini sebaiknya dihindari oleh kita selaku umat Islam. Karena Allah SWT akan melaknat orang yang memutus tali persaudaraan.
B.            Rumusan masalah
1.        Apa yang dimaksud  Ukhuwah ?
2.        Bagaimana menyambung silaturahmi ?
3.        Mengapa dilarang memutus silaturahmi ?
C.            Tujuan penulisan
1.        Untuk mengetahui apa yang dimaksud Ukhuwah.
2.        Untuk mengetahui bagaimana menyambung silaturahmi.
3.        Untuk mengetahui larangan memutus silaturahmi.






BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian     Ukhuwah
          Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu didudukan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada kesan bahwa istilah teresebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau dengan kata lain , kata “islamiyah” dujadikan sebagai pelaku ukhuwah.
          Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiva, sehingga ukhuwah islamiyah berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-Qur’an dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata “ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah”.
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.[1]


عن ا لنّعما بن بشير رضى الله عنهما قال : قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلّم : ترى المؤمنين في ترا حمهم وتوادّهم وتعا طفهم كمثل الجسد اذاشتكى عضو تدا عى سا ئر جسده با السّهر والحمّى
{ اخر جه البخرى :   كتاب الاذب : با ب رحمة النا س والبها ئم }
“An-nu’man bin Basyir berkata,’Nabi SAW.bersabda,’anda akan melihat kaum mukminin dalam kasih sayang dan cinta mencintai, pergaulan mereka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada lain-lain anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat tidur”.
(H.R. Bukhari)
Hadist di atas menggambarkan hakikat hubungan antara sesama kaum Muslimin yang begitu eratnya menurut Islam. Hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta, dan pergaulan diibaratrkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan, mersakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika anggota badan  tersebut sakit, anggota basdan lainnya ikut merasakan sakit. Hubungan itu menggambarkan betapa kokohnya hubungan antar sesama umat Muslim.
Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum Muslim dalam hubungannya sesama kaum Muslimin. Sifat egois dan mementingkan diri sendiri sangan ditentang oleh Islam. Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya untuk bersatu dan saling membantu. Itulah yang akan menjadi pangkal kekuatan kaum Muslimin. Setiap Muslim merasakan penderitaan saudaranya dan mengulurkan tangannya untuk membantu sebelum diminta, yang tidak didasarkan atas pujian dan imbalan, tetapi berdasaarkan Lillah.
Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh kaum Mukminin pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah ketika Beliau dan paara sahabat Hijkrah ke Madinah. Di kota inilah persaudaraan antar umat Islam terlihat sangat nyata. Penduduk kota Madinah menyambut kedatangan kaum Muhajirin dengan suka cita, melebihi sambutan kepada orang lain karena pertalian darah atau keluarga. Segala keperluan dan kepentingan kaum Muhajirin, mulai dari tempat tinggal, makanan, serta kebutuhan lainnya mendapat santunan dari penduduk kota [2]Madinah. Tidak mengherankan jika penduduk kota Madinah mendapat sebutan kaum Anshor, yakni kaum penolong dan pembela dalam arti yang luas, tanpa mengharapkan balasan apapun.
Bukti persaudaraan, kasih sayang dan keramahtamahan yang memiliki nilai keikhlasan yang sangat tinggi dari kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin diabadikan dalam Al-Quran:
tûïÏ%©!$#ur râä§qt7s? u#¤$!$# z`»yJƒM}$#ur `ÏB ö/ÅÏ=ö7s% tbq7Ïtä ô`tB ty_$yd öNÍköŽs9Î) Ÿwur tbrßÅgs Îû öNÏdÍrßß¹ Zpy_%tn !$£JÏiB (#qè?ré& šcrãÏO÷sãƒur #n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4
Artinya:
“ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada merka (orang Muhajirin) ddan mereka mengutamakan orang lain dari pada diri mereka walaupun diri mereka sendiri kekurangan.”
                                                                                       (Q.S. Al-Hasyr: 9)
 Pada masa itu kaum Muslimin betul-betul bersatu dan bersaudara sehingga menjadi satu kekuatan yang sulit ditandingi oleh musuh walaupun jumlah kaum Muslimin  tidak terlalu banyak. Akan tetapi, sangat disayangkan, pada saat ini semakin lama umat Islam bercerai berai walaupun dari segi jumlah semakin banyak. Kaum Muslimin tidak lagi mau bersatu sehingga menjadi lemah.
Menurut pendapat kami, bahwa pada awal mulanya terjadinya pengkotak kotakan umat islam di bumi nusantara berawal ketika pada saat pemilu bermunculan partai-partai umat islam yang pada awal mulanya partai Islam tergabung dalam satu partai maka tidak heran terjadi fanatisme golongan pada saat ini. Maka hendaknya setelah kita merasakan bahwa telah terjadi pengkotak kotakan diantara kita, kita mesti saling bertoleransi dalam segala perbedaan, karena pada hakikatnya perbedaan adalah rahmat. Ketika semua umat Islam mempunyai rasa toleransi yang tinggi yang terjadi adalah suatu integralitas atau dengan kata lain akan lahir nilai Tauhid yakni satu kesatuan diantara kita.
Persatuan dan kesatuan merupakan nikmat yang sangat besar, yang harus disyukuri oleh umat Muslim dengan cara mempertahankannya. Persaudaraan dan kesatuan akan membawa kepada kesuksesa atau kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Imran ayat 103 yang berbunyi:
(#rãä.øŒ$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3øn=tæ øŒÎ) ÷LäêZä. [ä!#yôãr& y#©9r'sù tû÷üt/ öNä3Î/qè=è% Läêóst7ô¹r'sù ÿ¾ÏmÏFuK÷èÏZÎ/ $ZRºuq÷zÎ) ÷LäêZä.ur 4n?tã $xÿx© ;otøÿãm z`ÏiB Í$¨Z9$# Nä.xs)Rr'sù $pk÷]ÏiB 3
Artinya:
Ingatlah karunia Tuhan kepada kamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan karunia Tuhan itu kamu menjadi bersaudara, dahulu kamu berada di tepi jurang yang curam (neraka). Maka Tuhan melepaskan kamu darinya”.
(Q.S. Ali Imran: 103)
          Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum masuknya Islam selalu berperang dan bercerai-berai, tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat bersatu.
          Akan tetapi, persamaan akidah yang dimaksud disini adalah dalam arti sebenarnya, lahir batin bukan hanya label atau pengakuan saja. Jika tidak demikian, persamaan akidah tidak mungkkin mampu mempersatukan dan mengembalikan kembali kejayaan umat Islam seperti pada masa pendahulu Islam.
          Namun demikian, tidak berarti bahwa umat Islam dilarang untuk berhubungan dan bersahabat dengan umat selain Islam. Umat Islam pun dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka karena pada dasarnya semua manusia itu berasal dari bapak yang sama, yakni Adam. Allah SWT . berfirman:
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ä¨$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4
Artinya:
Manusia adalah umat (bangsa) yang satu lalu ditulis oleh Tuhan nabi-nabi yang membawa berita gembira dan menyampaikan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka (nabi-nabi tersebut0 kitab yang mengandung kebenaran supaya dia memberikan keputusan antara sesam manusia dalam persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan”.
(Q.S. Al Baqarah: 213)
          Intisari ayat tersebut menegaskan bahwa pada dasarnya manusia merupakan satu rumpun keluarga, yang berasal dari satu nenek moyang yaitu Adam dan Hawa. Oleh karena itu, tidak patut saling bermusuhan hanya karena keturunan, bangsa atau agama. Kecuali kalau ada yang memerangi agama Islam, kita harus memeranginya.
          Menurut M Quraisy Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, setidaknya ada empat macam bentuk persaudaraan.
a.  Ukhuwah Ubudiyyah, atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah SWT.
b. Ukhuwah Insaniyyah, atau (bassariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini dalam sebuah hadits:
                             بي هريرة }   كو نواعبا د الله اخوانا { روه البخا رى عن أ
Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”[3]
(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)
العبا دكلهم إخوة
Artinya:
Hamba-hamba Allah semuanya saudara
c.  Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
d. Ukhuwah fi ad-din ai-Islam, yaitu persaudaraan antar sesama muslim.
Rasulullah bersabda:
أنتم أصحا بي إخوانناالذين يأ تون بعدي
Artinya:
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah (wafat)ku”.
Dengan demikian, persaudaraan dalam Islam mengandung arti cukup luas, tetapi persaudaraan antarsesama muslim adalah pertama dan sangat utama.
B.            Memelihara Silaturahmi
حديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال : سمعت رسولل الله صل الله عليه وسلم يقول : من سره أن يبسط له رزقه أو ينسأ له فى أثره فليصل رحمه.
 { أخرجه البخارى }
Anas bi Malik r.a. berkata, ‘saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda’, “siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung hubungan dengan famili (kerabat)”.
          Silaturahmi artinya menyambung tali persaudaraan. Hadits tersebut menggambarkan betapa pentingnya silaturahmi dalam kehidupan umat Islam. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap rezeki yang merupakan bekal hidup di dunia untuk mengabdi kepada-Nya. Selain itu, orang yang selalu menyambung tali silaturahmi akan dipanjangkan usianya dalam arti kata dikenang selalu.
          Hadits diatas kalau dicermati dengan saksama, sangatlah logis. Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman. Dengan mempunyai banyak teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula telah berusaha meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Hal ini karena ia telah melaksanakan salah satu perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan rezeki dan jalan keluar dalam setiap urusannya. Sesuai dengan firman Allah SWT:
ã =Å¡tFøts Ÿw ß]øymô`ÏB çmø%ãötƒurÇËÈ%[`tøƒxC&©!@yèøgs  ©!$# È,­Gtƒ `tBur
Artinya:
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”.
(Q.S. Ath Thalaq: 2-3)
          Dengan banyak bersilaturahmi, ia akan banyak berbuat kebaikan dengan sesama manusia, yang berarti pula akan semakin banyak mendapat pahala. Pahalanya akan lebih banyak dari pada orang yang tidak pernah bersilaturahmi walaupun umurnya sama. Dengan demikian, seakan-akan dia memiliki umur yang lebih panjang walaupun hakikatnya umurnya sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Selain itu, orang yang banyak bersilaturahmi walaupun sudah meninggal, ia banyak diingat dan dibicarakan, seakan-akan dia hidup terus.
          Banyak bersilaturahmi juga akan menimbulkan rasa kasih sayang antara sesama dan menimbulkan gairah hidup tersendiri, karena ia banyak saudara yang akan bahu-membahu dalam memecahkan berbagai permasalahan hidup yang selalu mengikuti manusia. Sehingga umurnya akan lebih bermanfaat, baik bagi dirniya maupun orang lain.
          Selain kedua manfaat diatas, masih banyak manfaat lainnya. Tidak heran kalau Rasulullah SAW. sangat menekankan silaturahmi, seperti dinyatakan dalam hadits:
وعن أبى سفيان  صخربن حرب رضي الله عنه في حديثه الطويل في قصّة هرقل : أن هرقل قال لأ بي سفيان : فما ذ ايأ مركم به ؟ بعنى النبيّ صلّى الله عليه و سلّم, قال : قلت : يقول : اعبدوا الله وحده ولاتشركوا به شيأ واتر كواما يقول اباؤكم ويأمرنا با لصلاة واصدق واعفاف والصلّة.   (متفق عليه)
“Dan dalam riwayat Abu Sufyan, ketika dia ditanya oleh Raja Hiraklius,’apakah yang diperintahkan oleh nabi itu?’ jawab Abu Sufyan, menyuruh kami menyembah Allah SWT. Dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan meninggalkan semua syariat-syariat ayah kami, dan menyuruh anak kita shalat, berkata benar, sopan, dan menghubungi kaum kerabat”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
C.      Larangan Memutuskan Tali Silaturahmi
حديث أبي أيّوب الأنصا ريّ أنّ رسولالله صلّى الله عليه وسلّم قال : لايحلّ لرجل أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال . يلتقيان فيعرض هذا وخيرهما الّذي يبدأ بالسّلام.
(اخرجه البخارى في : كتاب  لأذب :باب الهجرة وقول رسول الله صلى الله عليه وسلّم :لايحلّ لرجل أنيهجرأخاه فوق ثلاث)[4]
“Abu Ayub Al Anshari r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului memberi salam”.
(H.R. Bukhari)
          Sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesama manusia tidaklah selamanya baik; tidak ada problem dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan antar sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan. Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari, yang ditandai dengan taidak saling menegur sapa dan saling menjauhi. Hal itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
          Memang benar setiap manusia memiliki ego dan gengsi sehingga hal itu sering mengalahkan akal sehat. Akan tetapi, untuk apa mempertahankan gengsi bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama dalam  berhubungan dengan sesama. Apakah arti sifat ego tersebut bila dibandingkan dengan pentingnya persaudaraan dan persatuan umat. Apalagi bila mereka menyadari bahwa mereka yang memutuskan silaturahmi, diancam tidak akan mendapat kebahagiaan kelak di akhirat, yaitu mereka tidak berhak masuk surga. Rasulullah SAW. bersabda:
عن أبى محمدجبيربن مطعم رضي الله عنه أن رسول الله ص.م. قال : لايدخل ا لجنة قاطع. قال سفيان : وفى رواية : يعن قا طع الرحم.
{ البخار مسلم }

“Dari Abu Muhammad bin Muth’im r.a. bahwa Rasulullah SAW.bersabda, tidak akan masuk surga orang yang memutus (hubungan famili). Abu Sufyan berkata,”yakni pemutus hubungan famili (silaturahmi)”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
          Menurut Imam Nawawi, persengketaan harus diakhiri pada hari ketiga, tidak boleh lebih. Menurut sebagian ulama, diantara sebab Islam membolehkan adanya persengketaan selama tiga hari karena dalam jiwa manusia terdapat amarah dan akhlak jelek yang tidak dapat dikuasainya ketika bertengkar atau dalam keadaan marah. Waktu tiga hari diharapkan akan menghilang perasaan tersebut.
          Diantara cara efektif untuk membuka kembali hubungan yang telah terputus adalah dengan mengucapkan salam sebagai tanda dibukanya kembali hubungan kerabatan. Ini bukan berarti orang yang mengucapkan salam terlebih dahulu berarti kalah, tetapi ia telah melakukan perbuatan yang sangat mulia dan terpuji di sisi Allah SWT.
          Sedangkan mereka yang bersikeras memutuskan tali persaudaraan akan mendapatkan laknat dan kutukan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßgoYyès9 ª!$# ö/àS£J|¹r'sù #yJôãr&ur öNèdt»|Áö/r& ÇËÌÈ
Artinya:
“apakah mungkin, jika kamu berkuasa akan mengacau di bumi dan memutus hubungan keluarga. Merekalah yang dikutuk oleh Allah, maka dipekakan dan dibutakan pandangan mereka”.
(Q.S. Muhammad: 22-23)
          Pengaplikasian terhadap pendidikannya adalah kita sebagai pelajar di usahakan memperbanyak silaturahmi. Hindari perselisihan diantara kita yang akan menimbulkan permusuhan dan pencerai-beraian sehingga kita susah untuk berkonsentrasi. Perbanyaklah silaturahmi untuk membentuk suatu ukhuwah Islami yang kuat. Dengan memperbanyak silaturahmi, kita akan mempunyai banyak teman. Mempunyai teman yang banyak akan menambah relasi (chanel) kita. Relasi merupakan salah satu faktor yang akan menunjang kesuksesan kita dalam belajar dan menunjang kesempatan kerja setelah kita lulus nanti dengan selalu bersilaturahmi. Misalnya kita bisa belajar bersama, bertukar pikiran, serta memberikan motivasi untuk lebih baik dimasa mendatang. Manfaat lain yang paling penting adalah ketentraman hati dan berfikir positif kepada setiap manusia.














BAB III
PENUTUP
          Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Ukhuwah dalam Islam itu sangatlah penting dalam keselarasan umat Islam sendiri. Persaudaraan antarumat muslim bagaikan sebuah tubuh yang bilamana terdapat bagian tubuh yang sakit, bagian tubuh yang lainnya pun akan ikut merasakan sakit pula. Wajib hukumnya bagi kaum muslimin untuk menjaga ukhuwah kepada sesama muslim dan kepada non muslim pula, karena pada dasarnya manusia adalah saudara yakni sama-sama dari keturunan Adam dan Hawa. Tetapi dalam hal ukhuwah ini yang paling di wajibkan adalah ukhuwah sesama muslim.
          Perbanyaklah bersilaturahmi kepada sesama muslim terutama kepada sanak famili. Dengan kita meningkatkan tali silaturahmi, kita juga meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, juga akan timbul rasa saling membantu terhadap sesama. Dan janganlah kamu sekali-kali memutuskan tali silaturahmi, karena Allah akan melaknat orang yang memutuskan tali silaturahmi.



\







DAFTAR PUSTAKA

vProf.Dr.H.Syafei,Rachmat.2000.AlHadits(akidah,akhlak,sosial,danhukum)
Pustaka Setia:Bandung.
vH.Hamidi,Zaenuddin.1989.Shahih Bukhari.Widjaya:Jakarta.
vHawwa,Said.2005.Takziatun Nafs.Pena Pundi Aksara:Jakarta.
vMuhammad, Faiz Almath.1999.1100 Hadis Terpilih.Gema Insani:Jakarta.


[1] Rachmat,Syafei.Alhadits. hal199
[2] Hawwa,Said.Tazkiyatun nafs.
Rachmat,Syafei.AlHadits. hal:202-203
[3] Hamidi,Zaenuddin.Shahih Bukhari
Ibid hal 206
[4] Rachmat,Syafei.AlHadits. hal: 210-212
Muhammad,Faiz.Hadits Terpilih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar